Rabu, 25 Maret 2015

Sebelum bertindak berpikirlah terlebih dahulu (Cadangan Pesangon Usia Pensiun)



Karyawan yang sudah diangkat tetap dan SK sudah keluar. Direksi harus memikirkan Cadangan Pesangon Usia Pensiun Karyawan tsb pada awal karyawan tetap di BPR. Direksi harus menanyakan ke SKAI, apakah cadangan Pensiun di BPR tersebut sudah mencukupi 100%.


Serta bagaimana rencana BPR tersebut dalam mengejar terpenuhinya Cadangan Pesangon Usia Pensiun bagi Karyawan Tetap yang sudah ada atau belum? Kalau belum, bagaimana rencana BPR tersebut dalam mengejar terpenuhinya 100% Cadangan Pesangon Usia Pensiun bagi Karyawan Tetap yang sudah terlanjur diangkat. Kalau Karyawan Tetap yang sudah terlanjur diangkat saja belum terpenuhi 100% Cadangan Pesangon Usia Pensiunnya, lha kok malah nambah mengangkat Karyawan Tetap lagi. Ya malah tambah susah membentuk 100% Cadangan Pesangon Usia Pensiunnya. Apakah ada BPR yang sudah memenuhi 100% Cadangan Pesangon Usia Pensiun bagi Karyawan tetapnya? Ada, Karyawan Tetapnya juga sudah banyak pula. Tetapi memang Direksi BPR ini punya komitmen untuk memenuhi 100% Cadangan Pesangon Usia Pensiun, dan sekarang sudah terpenuhi.


Kesimpulan : Jadi jika akan mengangkat karyawan tetap, maka Direksi itu harus memikirkan Cadangan Pesangon Usia Pensiunnya.

--oOo--


Penulis:

Rahmi Hardyastuti, S.Psi


Alumni  2013 - Universitas Islam Sultan Agung 
Anggota APIO

Selasa, 24 Maret 2015

Lima Belas Menit yang Sangat Berharga Untuk Karyawan


Pojok CS-KS
Cerita Santai, Karir, dan Seleksi " bersama Kang Franes




Gambar. 1.  Ponsel bahkan tidak pernah bisa lepas, 
 walaupun sedang di meja makan, lalu bagaimana jika di kantor???




Setiap harinya kita disibukan dengan pekerjaan rutin dan pekerjaan "dadakan".  Adakalanya kita jengkel  mendapati kenyataan bahwa pekerjaan kita seperti tidak ada jejaknya, tidak habis-habis.  namun, ketahuilah kawan... jika kalian bekerja di perusahaan yang pekerjaannya tidak pernah dapat anda "selesaikan" ada-lagi, ada-lagi... maka seharusnya anda beruntung... :)  itu tandanya perusahaan anda masih membutuhkan anda.... :)


Sesibuk apa pun saya di kantor, saya dan team saya selalu menyempatkan 15 menit di pagi hari dan sore hari untuk diskusi tentang apa yg akan dilakukan, dan apa yang telah dilakukan.  Hal tersebut bagi kami sangat bermanfaat, selain sebagai kontrol pencapaian kinerja juga bermanfaat sebagai tempat sharing antar anggota team (share kesulitan dan cara mengatasi masalah yg dihadapi tersebut).

Koordinasi tersebut sangat bermanfaat dalam memupuk kekompakan dalam team.  itulah yang saya maksud "Lima belas menit yang Sangat Berharga bagi kami"



--oo0oo--

Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si


Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. 
Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).









Senin, 23 Maret 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 23 Maret 2015





GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Anggota Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi (APIO))








Keterangan Foto : Rumah Makan "Pempek Ny. Kamto - Palembang" di Jalan Ngesrep Timur, Tembalang, Semarang (jalan menuju Kampus Universitas Diponegoro Semarang)
(Foto oleh : Ir. Constantinus)

* * *

TOP OF MIND. Kata-kata ini berarti "apa yang pertama terlintas di pikiran orang ketika dia diminta menyebutkan merek suatu barang". Itulah yang saya pelajari di bangku kuliah ketika saya  masih belajar S-2 Magister Manajemen Bidang Pemasaran tahun 1998-2000. Artinya, itu sudah 15 tahun yang lalu (tulisan ini dibuat tahun 2015), tetapi sampai sekarang masih relevan. Misalnya, ketika saya ditanya tentang rumah makan yang menjual Pempek Palembang yang enak, maka saya langsung menjawab "Ny. Kamto".

* * *

"Itu 'kan untuk nama rumah makan. Kalau untuk kita sebagai karyawan, bagaimana ?" tanya Slontrot kepada saya.

"Sama saja. Pemilik perusahaan atau pewawancara atau atasan, rekan kerja, bahkan bawahan pasti punya Top of Mind tentang diri kita. Dan itu sanngat penting untuk kita ciptakan dan kita jaga," jawab saya.

"Maksudnya bagaimana ?" tanya Slontrot lagi.

"Maksudnya, jangan sampai orang punya Top of Mind yang jelek tentang diri kita," jawab saya. "Misalnya, jangan sampai orang punya Top of Mind bahwa diri kita adalah pemalas, ceroboh, dan sejenisnya".

"Tetapi bagaimana membuat Top of Mind yang baik itu ?"

"Dengan usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten. Sebab kalau tidak, maka Top of Mind positif tidak akan terbentuk".

* * *

Salah satu rumah makan yang menurut saya melakukan usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten untuk menciptakan Top of Mind yang baik adalah Rumah Makan "Pempek Ny. Kamto - Palembang". Di setiap rumah makannya, dipasang foto-foto bagus berukuran besar tentang proses pembuatan Pempek, lengkap dengan foto tentang besarnya ikan segar yang akan diproses menjadi Pempek. Juga ada foto tentang proses pembuatan pempek berisi telor (setiap pempek diisi dengan satu telor). Foto-foto ini membuat pembeli memiliki Top of Mind bahwa makanan yang dibelinya memang pempek berkualitas tinggi, bukan pempek biasa.

* * *

Perlu sekali untuk menciptakan dan menjaga Top of Mind. Selain kita harus memiliki KUALITAS, maka PENAMPILAN juga penting. Ketika saya membeli pempek, tentu yang saya makan adalah pempeknya (bukan fotonya). Tetapi foto yang bagus dan besar tentang proses pembuatan pempek membuat saya memiliki Top of Mind bahwa pempek yang saya beli dan saya makan adalah pempek yang berkualitas tinggi.

-----oOo-----

----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi

Jumat, 20 Maret 2015

Tips dan Trik Cara Pendaftaran Peserta BPJS Kesehatan versi Badan Usaha

Obras (Obrolan Santai) bersama Linda
Serba-Serbi "Hubungan Industrial"




Tips dan Trik Cara Pendaftaran Peserta BPJS Kesehatan versi Badan Usaha

Sudah beberapa kali saya mondar-mandir ke Kantor Cabang Utama Semarang - BPJS Kesehatan. Suasana dari luar sebelum masuk ke parkiran kantor saja sudah penuh dengan orang-orang yang sudah mengantri sebelum pegawai BPJS Kesehatan berdatangan.
Mungkin yang baru pertama kali datang kesana pasti bingung, apa yang harus dilakukan karena melihat antrian dari pagi yang sudah penuh sesak seperti itu.
Saya ingin berbagi sedikit informasi dari pengalaman yang sudah saya alami selama ini.

Berikut langkah-langkahnya :

1. Pastikan kalian datang lebih awal
 Untuk menghemat waktu, kalian harus datang lebih awal. Lebih awal tidak harus pagi-pagi, yang jelas kita mengetahui jam buka loket antrian.


2. Siapkan berkas dan kelengkapan dokumen pada H-1
Pastikan berkas dan kelengkapan dokumen yang akan diserahkan. Hal ini mengantisipasi agar kita tidak bolak-balik karena kekurangan data yang harusnya bisa kita selesaikan di hari itu juga.

3. Antri sesuai jenis kepesertaan 
Dalam hal ini, ada dua jenis kepesertaan yaitu mandiri dan badan usaha. Mandiri untuk peserta yang tidak terikat perusahaan. Sedangkan, badan usaha adalah bagi mereka yang terdaftar sebagai karyawan atau pekerja. Jangan segan-segan bertanya kepada petugas atau satpam untuk menanyakan letak loket. Jangan sampai kita datang antri lebih awal di loket yang salah.

4. Ambil nomor antrian sesuai kebutuhan
Setelah sampai di loket yang dituju, kemudian ke arah petugas untuk mengambil tiket antrian. Pastikan "misi" apa yang akan dilakukan di Kantor BPJS Kesehatan. Jangan sampai kita sudah lama mengantri tetapi di loket yang salah. Terdapat beberapa loket antrian, antara lain : Informasi, Registrasi, Kepesertaan, dan Keuangan. Informasi, berkaitan dengan hal yang ingin kita ketahui mengenai pendaftaran badan usaha. Registrasi, berkaitan dengan badan usaha yang belum melakukan pendaftaran untuk mengikuti kepesertaan karyawan. Kepesertaan, berkaitan dengan badan usaha yang sudah melakukan pendaftaran, penambahan, mutasi, dan penonaktifan status kepesertaan. Keuangan, berkaitan dengan tagihan dan pencetakan bukti bayar. 

Keempat langkah di atas, yang secara umum dilakukan. Khusus untuk badan usaha yang telah menggunakan e-dabu telah dimudahkan dengan sistem pendafataran online sehingga bisa kita lakukan pendaftaran tanpa mengumpulkan berkas ke loket. Kita tinggal memantau hasil approval status kepesertaan yang telah kita kirim via e-dabu. Jika di sistem "masih dalam proses", segeralah follow up langsung ke loket. Dengan catatan, kita telah melakukan pembayaran tagihan di bulan tersebut.
Semoga bermanfaat untuk rekan-rekan semua. Misi kita datang untuk membawa hasil, bukan hanya membuang waktu sia-sia.


- Praktis saja tidak cukup, karena strategis itu perlu -

-----oOo-----



Penulis : 
Linda Tetelepta, S.A.P



Alumni Universitas Diponegoro 
Anggota APIO




Kamis, 19 Maret 2015


Sketsa Training  Bersama Mbak Happy 

BELAJAR MEMBUAT Term of Reference (TOR) 

Term of Reference (TOR) adalah gambaran tujuan, ruang lingkup dan struktur sebuah proyek (kegiatan) atau kepanitiaan yang telah disepakati untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Definisi di atas mungkin terlalu umum dan sulit dipahami. Penjelasan secara sederhana, jika kita mengadakan sebuah kegiatan, tentunya ada alasan (motif) kenapa kita melakukanya, batasan sejauh apa kita mau melakukannya dan untuk apa kita melakukannya. Itulah yang dituangkan dalam TOR.

 Belajar Dari Pengalama
Suatu hari di tahun 2014 , saya menjadi moderator sekaligus panitia training. Yang saya lakukan beberapa hari sebelum hari H adalah mempersiapkan semuanya (ruangan training, peserta training, materi training dll). Saya menghubungi trainer sekaligus meminta materi yang akan dipresentasikan pada training tersebut. Karena saya (pada saat itu) belum mengetahui apa itu TOR, maka saya hanya menerima materi tersebut tanpa melihat isinya. Hari H trainingpun tiba. Semua berjalan lancar, setibanya trainer tersebut melakukan presentasi , ternyata apa yang dipresentasikan dengan judul pelatihan tersebut bertolak belakang (kagak nyambung kalo orang betawi bilang). Setelah pelatihan tersebut selesai, para peserta mengisi kesan dan pesan. Dan sesuai dugaan saya, di dalam kesan dan pesan tersebut banyak yang menyampaikan bahwa pelatihan tersebut tidak tepat sasaran. Nah dari pengalaman tersebut , untuk sekarang dan selanjutnya saya akan membuat TOR terlebih dahulu agar materi yang akan disampaikan tepat sasaran.

TOR untuk Narasumber
Dalam hal ini, TOR berarti dokumen yag menunjukkan batasan materi yag perlu disampaikan oleh narasumber (pembicara) dan bagaimana kondisi audience (pendengar) saat materi itu diberikan. Maka, ada beberapa poin pokok yang perlu dimasukkan dalam TOR untuk tujuan ini.
Gambar 1 : Contoh Form TOR BPR Restu Group
Keterangan
§  Latar Belakang. Latar belakang ini biasanya muncul dari pertanyaan “Mengapa anda melakukan kegiatan ini?” dari pertanyaan tersebut akan muncul berbagai alasan-alasan yang tanpa disadari adalah memuat latar belakang mengapa harus diadakan kegiatan tersebut.

§  Tujuan. Sampaikan juga, alasan kenapa materi ini perlu disampaikan. Bila perlu buat dalam kategori tujuan umum dan tujuan khusus.

§  Peserta. Berikan juga gambaran kondisi peserta yang perlu diketahui sebelumnya oleh pemateri.

§  Materi. Hukumnya wajib dan mutlak (mutlaq pake Q kalao perlu). Sering ditemui permintaan tolong mengisi materi, judulnya “tentang KEPRAMUKAAN”. Padahal materi berhubungan dengan kepramukaan ada banyak. maka, jika anda menjadi panitia sebuah pelatihan, pastikan setiap materi memiliki judul yang spesifik. Bila perlu, sampaikan materi-materi apa saja yang sudah diberikan dan akan diberikan.

§  Metode. Bagaimana hendaknya materi akan disampaikan. Apakah menghendaki ada waktu untuk tanya jawab, praktek atau penugasan?

§  Nama Trainer. Pastikan nama trainer yang akan mengisi/ menjadi pemateri pada kegiatan tersebut.

§  Nama Pelatihan / Judul . Logikanya, jika anda memilih sebuah judul materi untuk disampaikan pada peserta, anda sudah tahu gambaran isi materi yang akan disampaikan. Tidak masalah jika gambaran itu nanti berbeda dengan yang ada dalam pemikiran pemateri. Setidaknya, jika sudah ada garis besar isi materi, pemateri lebih mudah mempersiapkan diri.

§  Hari/ Tanggal, Waktu, Lokasi . Hari/Tanggal, Waktu dan Lokasi ini harus dipastikan agar peserta dapat mempersiapkan diri dan mengetahui Lokasi tempat kefiatan tersebut dilaksanakan.

§  Evaluasi. Evaluasi Level I      Apakah peserta merasakan puas dengan training ini ?
Evaluasi Level II Apakah ada perubahan pada diri peserta training SEBELUM dan     SESUDAH training dilakukan ?
Evaluasi Level III Apakah peserta selama satu minggu, satu bulan, dan dua bulan setelah training menunjukkan adanya PERUBAHAN POSITIF sesuai TUJUAN yang hendak dicapai oleh training ini ?
Evaluasi Level IV Apakah training sudah memberikan IMPACT (DAMPAK / AKIBAT) secara NYATA.


Poin-poin di atas hanya salah satu alternatif yang sering saya masukkan jika saya membuat TOR untuk narasumber.
Bagi yang belum terbiasa dengan istilah TOR ini, biasakanlah. Karena akan sangat berpengaruh terhadap efektifitas pelatihan yang anda selenggarakan. Meskipun anda sekedar menyelenggarakan kegiatan rutin yang (menurut anda) sudah jelas arahnya. Pembicara yang tidak terbiasa menerima TOR mungkin akan beranggapan “Ah, kenapa harus repot seperti ini?”
Biasanya orang itu tipe orang yang ketika menyampaiakn materi cukup dengan yang standard dan apa adanya. Tanpa melihat siapa pendengarnya dan perkembangan materi yag akan dibawakannya.

 --oOo---
 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO

Rabu, 18 Maret 2015

Jenjang Karir Karyawan Habis Kontrak

Tepat  pukul 12.00 menandakan waktu makan siang karyawan BPR. Berbondong-bondonglah makan siang di dapur belakang kantor pusat BPR Restu Group. Obrolan pun dimulai dengan karyawan yang lain.

A: Eh mau tanya

B : Iya ,mau tanya apa?

A : Gimana sih proses Karyawan habis kontrak?

B: Karyawan yang habis kontrak H-2 sebelum kontrak habis diajukan ke Direksi untuk diproses sebelum dikirim ke HRD.

A: Untuk apa diajukan ke Direksi?

B: Untuk diproses karyawan mana yang akan diperpanjang kontrak atau menjadi karyawan tetap.

A : Caranya bagaimana?

B : Biasanya direksi melihat dari karyawan yang memiliki kompetensi dan integritas yang baik.

A : Owh gitu, berarti diusulkan dulu ke HRD ya?

B : Iya…

A : Trus prosesnya setelah ke HRD?

B : HRD melihat Trend  Penilaian dari bulan ke bulan, apakah trendnya meningkat atau menurun.

A : Klu meningkat atau menurun bedanya apa?

B : Klu meningkatkan berarti karyawan tersebut dalam penilaian kader dan crew, kalau menurun karyawan tersebut dalam penilaian crew atau kadang juga pantauan.

A : Dilihat trendnya dulu ya, penilaiannya dilihat dari bulan apa?

B : Dari bulan Maret 2014 – Penilaian bulan sekarang dan setelah kami melihat trendnya bagus akan kami rekomendasikan ke Pak DYO selaku SKAI. Apakah ada keberatan untuk karyawan tsb diangkat tetap.

A : Kenapa harus ke Pak DYO?

B : Karena untuk mengetahui Apakah karyawan tsb orang yang berkompeten dibidangnya dan tidak mempunyai masalah (ex : Froud). Tim HRD kita juga memberitahukan juga ke Dewan Komisaris yaitu Ibu RTN karyawan yang diangkat pegawai tetap.

A : Setelah disetujui trus bagaimana?

B : Ya Tim HRD memberikan Memo Pemberitahuan kalau karyawan yang diusulkan boleh diangkat menjadi karyawan tetap.

A: Berarti jalurnya HRC memberitahukan ke Direksi karyawan yang habis kontraknya, HRC membuat Memo permohonan karyawan tetap ke HRD, HRD memproses  ke  Pak DYO (SKAI) dan  Ibu RTN.  Kemudian HRD membuat memo persetujuan pengangkatan karyawan tetap.

B : iya, berarti kamu paham ya?

A : iya… makasih ya sudah ngobrol. Kapan-kapan Tanya-tanya lagi ya?

B: iya… dengan senang hati. ^_^ 




Contoh gambar Penilaian Maret 2014-Jan 2015
Trend Meningkat


--oOo--


Penulis:

Rahmi Hardyastuti, S.Psi


Alumni  2013 - Universitas Islam Sultan Agung 
Anggota APIO

Selasa, 17 Maret 2015

Tips Mengirim Lamaran Kerja Melalui E-mail

Pojok CS-KS
Cerita Santai, Karir, dan Seleksi " bersama Kang Franes



Sore tadi saya memilih-milih lamaran yang saya terima melalui email, disana banyak saya temui lamaran yang tidak jelas posisinya, tidak jelas siapa pengirimnya, dan tidak cukup lengkap berkas yang kami terima.

Atas kejadian tersebut, dibawah ini saya tuliskan Tips Mengirim Surat lamaran Kerja Melalui E-mail, semoga dapat bermanfaat untuk temen-teman yang masih mencari kerja, atau hanya untuk menambah informasi saja.


  1. Cermati lowongan pekerjaan yang tersedia (terutama posisi loker, persyaratan, batas maksimal penutupan lamaran)
  2. Siapkan berkas kelengkapan lamaran dalam bentuk soft copy
  3. Pastikan e-mail anda masih aktif dan profesional
  4. Tuliskan surat lamaran dalam badan e-mail
  5. Tuliskan Judul/Subject dengan Posisi lamaran yang kita tuju disertai nama lengkap
  6. Upload semua lampiran yang diperlukan (disesuaikan syarat lamaran)
  7. Masukan alamat e-mail perusahaan tertuju dan di cc kan ke alamat anda sebagai pengirim lamaran
  8. Pastikan semua berkas persyaratan lengkap  dan  alamat e-mail tertuju benar
  9. Yang tidak kalah penting adalah, PASTIKAN KONEKSI internet anda berjalan lancar
  10. Setelah dipastikan siap, lalu kemudian tekan "KIRIM''


Demikian tips singkat mengirim lamaran kerja melalui e-mail, semoga bermanfaat.


-----oOo-----


Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si


Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. 
Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)