Tampilkan postingan dengan label Gado-gado Dunia Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gado-gado Dunia Kerja. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 02 Nopember 2015

Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia, Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi)

TEKAD YANG KUAT. Ungkapan ini perlu ditunjukkan oleh para pelamar kerja pada saat melamar kerja. Tentu saja, tidak berarti bahwa apabila nantinya sudah diterima kerja, tidak perlu menunjukkan tekad yang kuat lagi. 

Ungkapan tekad kuat ini menyangkut aspek psikis dan juga aspek fisik. Maksudnya, perusahaan akan memilih dan menerima / mempekerjakan pelamar yang menunjukkan usaha keras untuk menjalankan pekerjaan / mencapai tujuan, bukqn hanya dalam hal kemauan tetapi juga kemampuan ( termasuk di dalamnya kemampuan secara fisik, misalnya selalu sehat sehingga dapat berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya).

"Bagaimana kalau ada pelamar kerja yang cerdan atau pandai, tetapi tidak menunjukkan adanya tekad kuat ?" tanya Slontrot.

"Perusahaan akan memilih pelamar lain untuk diterima sebagai karyawan," jawab saya.

"Meskipun kepandaiannya kalau ?" 

"Ya, meskipun kepandaiannya kalah. Sebab kalau tekadnya tidak kuat, percuma saja menerima pelamar yang pandai, karena dia akan mudah menyerah," jawab saya.


-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Senin, 26 Oktober 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 26 Oktober 2015

Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia, Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi)


MENANDATANGANI SURAT LAMARAN KERJA. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi ternyata fatal akibatnya kalau tidak dilakukan. Tentu saja, ini berlaku untuk Surat Lamaran yang dikirim tidak lewat e-mail. Kalau yang dikirim lewat e-mail, memang tidak perlu ditandatangani.

"Kenapa harus ditandatangani ?" tanya Slontrot.

"Supaya sah bahwa Surat Lamaran itu memang dikirim oleh orang yang namanya tertulis di situ," jawab saya. "Selain itu, juga menggambarkan kepribadian pelamar kerja".

"Maksudnya bagaimana ?"

"Saya pernah mewawancarai pelamar yang Surat Lamarannya tidak dia tanda tangani. Katanya, karena dia buru-buru, maka  sebelum dia sempat membubuhkan tanda tangan, sudah terlanjur dia kirim ke perusahaan saya".

"Apa dia diterima bekerja ?"

"Jelas tidak. Orangnya dalam keadaan terburu-buru jelas tidak teliti. Saya tidak mungkin mempekerjakan karyawan seperti dia".

-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Senin, 19 Oktober 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 20 Oktober 2015

GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia, Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi)



MENANDATANGANI SURAT LAMARAN & DAFTAR RIWAYAT HIDUP. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi sangat vital. Surat Lamaran Kerja dan Daftar Riwayat Hidup yang tidak ditandatangani padahal tidak dikirim lewat e-mail, membuat Surat Lamaran Kerja dan Daftar Riwayat Hidup itu tidak sah secara hukum; kalau dikirim lewat e-mail, memang tidak perlu ditandatangani. 

"Apa yang dialami oleh Surat Lamaran Kerja dan Daftar Riwayat Hidup yang tidak ditandatangani, padahal tidak dikirim lewat e-mail ?" tanya Slontrot ingin tahu. 

"Saya buang," jawab saya.

"Kok begitu ?" tanya Slontror.

"Habis mau bagaimana lagi ?" jawab saya.

"Apa tidak kamu panggil wawancara kemudian kamu tanyai kenapa tidak ditandatangani ?" tanya Slontrot.

"Dulu begitu. Sekarang tidak lagi. Sebab, jawabannya sama, yaitu karena tergesa-gesa maka sudah  dikirim. Ini 'kan gawat ! Kalau dia bekerja di perusahaan saya, maka perilakunya juga akan begitu. Dengan alasan terburu-buru, maka dokumen yang belum komplit akan diproses atau dijalankan oleh dia. Wah, jadi ruwet nanti," jawab saya.

* * *

Selain masalah keabsahan secara hukum, tidak adanya tanda tangan pada Surat Lamaran Kerja dan Daftar Riwayat Hidup juga menunjukkan kepribadian yang ceroboh dari si pengirimnya. Oleh karena itu, jangan lupa memeriksa kembali Surat Lamaran Kerja dan Daftar Riwayat Hidup yang akan dimasukkan ke dalam amplop untuk dikirim ke perusahaan, daripada sudah terlanjur dikirim ternyata tidak ada tanda tangannya. Percuma saja, pasti tidak akan diproses karena tidak sah secara hukum dan menunjukkan pribadi pengirim lamaran yang ceroboh.


-----oOo-----
 
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Senin, 05 Oktober 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 05 Oktober 2015

GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia, Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi)




MELATIH DIRI SENDIRI UNTUK MEMBUAT CATATAN ANALISIS PERISTIWA SEHARI-HARI. Memang, kalimat tersebut terkesan relatif panjang. Tetapi intinya sederhana saja : analisislah peristiwa yang dijumpai dalam keseharian, kemudian catatlah. Itu saja.

"Sebenarnya buat apa tho ?" tanya Slontrot. 

Saya tahu bahwa Slontrot akan bereaksi. Sebab, Slontrot itu ahli dalam obrolan tetapi nol dalam tulis-menulis.

"Untuk melatih berpikir secara sistematis," jawab saya.

Slontrot semakin penasaran.

"Berpikir secara sistematis bagaimana ? Saya memang tidak pernah menulis. Tapi masa' karena saya tidak pernah menulis, cara berpikir saya tidak sistematis ?" tanya Slontrot.

"Terus, kenapa kamu tidak pernah menulis ?" tanya saya kepada Slontrot.

"Lha itu.... Saya itu kalau mau menulis, bingung mau mulai dari mana....," kata Slontrot jujur.

"Terus, kamu juga bingung 'kan, setelah itu mau menulis apa, kemudian mau menulis apa, begitu seterusnya sampai tulian itu selesai....," timpal saya.

Slontrot mengangguk-anggukkan kepalanya. 

"He....he...he.... Memang iya," katanya.

"Ya begitu itu yang dimaksud dengan cara berpikir kamu tidak sistematis, sehingga kamu tidak bisa menulis....mulai dari mana....terus ke mana....akhirnya sampai di mana....," kata saya.

Slontrot tidak membantah.

* * * * *

Menulis itu merupakan ketrampilan, seperti naik sepeda. Sebenarnya, semua orang bisa. Yang penting, memang harus berlatih. Semakin banyak berlatih, akan semakin mahir.

Demikian pula dengan berpikir secara sistematis, yang merupakan dasar dari membuat tulisan.

* * * * *

"Kamu menulis apa kali ini ?" tanya Slontrot kepada saya.

"Menulis catatan pribadi analisis saya setelah menonton film yang berjudul The Martian", jawab saya.

"Apa yang kamu tulis ?" tanya Slontrot.

"Hal-hal yang berkesan buat saya. Misalnya, betapa tokoh utama yang bernama Mark Witney merasa gembira ketika ada satu tunas kentang yang bisa tumbuh di laboratoriumnya di Planet Mars. Dia menyentuh tunas itu dengan lembut sambil berkata "hallo" kepadanya. Dan meskipun kelak dia sudah kembali ke bumi, pada saat dia melihat ada tunas tumbuhan liar yang tumbuh di jalanan, dia tetap mengusap tunas itu dengan lembuat dan berkata "hallo" kepadanya," kata saya. "Adegan ini sangat menyentuh hati, yaitu tentang betapa pentingnya menghargai kehidupan".

* * * * *

Tentu saja, bakat menulis dan berpikir sistematis masing-masing orang berbeda-beda. Tetapi ketika secara umum sudah diketahui bahwa ketrampilan menulis dan berpikir sistematis itu penting untuk bekerja dan meniti karir, kenapa tidak dilatih sejak sekarang, dengan memulai membuat catatan tentang analisis pengalaman dalam hidup sehari-hari ?


-----oOo-----
 
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Senin, 21 September 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 21 September 2015

GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Industri)


MELATIH DIRI MENJADI PEMIMPIN. Saya tidak pernah mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu lebih baik daripada menjadi anak buah. Masing-masing adalah penggilan hidup. Sama seperti tidak semua orang bisa menjadi seniman, atau tidak semua orang bisa menjadi ilmuwan. Semua sama baiknya asalkan dijalani dengan sungguh-sungguh.

"Tetapi apakah ada ciri-cirinya bahwa seseorang itu panggilan hidupnya menjadi pemimpin atau tidak?" tanya Slontrot.

"Ada," jawab saya. "Dilihat saja apakah sejak SD atau SMP dia itu sudah biasa menjadi panutan atau pelopor bagi teman-temannya".

Ini wajar saja. Saya punya teman yang sejak SD terlenal pandai menggambar. Di SMP dia juga terkenal pandai menggambar. Di SMA dia juga terkenal pandai menggambar. Tidak heran kalau dia kemudian kuliah di Arsitektur ITB, dan sekarang menjadi arsitek terkenal.

"Jadi, tidak bisa ya....seseorang diikutkan training tentang kepemimpinan, kemudian dia jadi pemimpin ?" tanya Slontrot.

"Harus ada prosesnya. Tidak bisa langsung jadi pemimpin....dan yang namanya berproses itu pasti belajar setahap demi setahap," jawab saya.

* * * * * 

Di tempat kerja, seringkali terjadi salah persepsi dalam membedakan karyawan yang produktif sebagai anak buah dengan karyawan yang punya potensi untuk dilatih supaya kompeten menjadi pemimpin. Harus dipahami bahwa tidak setiap anak buah yang produktif dapat dilatih supaya kompeten menjadi pemimpin, sebab hanya anak buah yang punya potensi menjadi pemimpinlah yang seharusnya dilatih supaya kompeten menjadi pemimpin.

"Kamu tidak pernah bisa mengajar anak sapi untuk terbang," kata saya kepada Slontrot. "Meskipun itu adalah anak sapi yang sehat dan kuat, dia tetaplah anak sapi, dan anak sapi memang tidak pernah bisa terbang, bahkan ketika dia sudah menjadi sapi dewasa sekalipun. Tetapi dia bisa menjadi sapi yang gemuk dan sehat, sebagaimana anak sapi seharusnya".




-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi

Minggu, 13 September 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 14 September 2015

GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi - Anggota HIMPSI,  Magister Manajemen dalam Bidang Marketing dan dalam Bidang SDM)


OLAH RAGA BELA DIRI APA YANG KAMU IKUTI ?

Itulah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pemilik perusahaan dalam tes wawancara yang saya jalani di tahun 2002. 

Saya sempat kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena saya mendaftar untuk posisi manajerial yang tidak ada kaitannya dengan bela diri. Pengalaman saya pun saat itu di bidang perbankan dan marketing, dan posisi manajerial yang saya lamar adalah di perusahaan perbankan.

"Karate," jawab saya mantap. Saya memang ketika kuliah dulu ikut olah raga karate, dan sejak SD saya sudah menghafalkan banyak jurus silat dari buku-buku yang saya beli di tahun 1980-an.

* * * * *

"Kamu sendiri, apa sekarang juga mengajukan pertanyaan yang sama ketika mewawancarai pelamar kerja ?" tanya Slontrot kepada saya.

"Ya," jawab saya. "itu bisa menjadi salah satu indikator tentang kepribadian pelamar tersebut. Memang bukan satu-satunya indikator. Kalau seorang pelamar ikut suatu olah raga beladiri, bisa saya gali apa motifnya. Itu yang menjadi salah satu indikator kepribadian".

* * * * *

setiap hari Sabtu pagi, saya mengajak anak buah saya melakukan kegiatan "outbound training". Tetapi jangan salah duga, "outbound training" ini adalah training di luar ruangan (lebih tepatnya : di halaman kantor) dengan bertelanjang kaki dan melakukan pukulan, tangkisan, tendangan karate. Semua anak buah aktif berlatih berpasangan menggunakan alat-alat bantu untuk memukul, menangkis, atau menendang. Semua bersemangat, semua berkeringat. Tentu saja, sebagai sebuah training, ada bagian "refleksi manajemen" yaitu menjelaskan apa kaitan kegiatan beladiri tersebut (termasuk latihan fisik, kuda-kuda, tangkisan, tendangan, kecepatan, keakurata, antisipasi, tekad yang kuat / keyakinan diri) dengan manajemen di tempat kerja. Intinya adalah : PENGETAHUAN SAJA BELUM CUKUP. Setiap orang harus melatif fisik dan kepribadiannya supaya memenuhi tuntutan pekerjaan / posisi jabatannya.

Dari "outbound training" setiap Sabtu pagi secara rutin, terlihat bahwa peserta semakin lama semakin percaya diri, sigap, percaya diri menghadapi tantangan. Ini terjadi karena mereka selalu dihadapkan pada pengalaman nyata dengan melakukan latihan karate secara berpasangan. Santai, tetapi semuanya serius. Sebab saya selalu mengatakan, kalau tidak ber-HATI-HATI, bisa CEDERA ! Maka harus selalu ANTISIPATIF dan PENUH PERHITUNGAN. KEKUATAN FISIK juga harus selalu dilatih. Dan tentu saja, DOA dan TEKAD KUAT untuk selalu mendapatkan PENINGKATAN KEMAMPUAN dari satu "outbound training" ke "outbound training" berikutnya. Selalu harus ada PENINGKATAN pada diri sendiri.

* * * * *

"Apakah harus beladiri ? Bagaimana kalau hobinya adalah naik gunung atau menyelam ?" tanya Slontrot.

"Tidak masalah," jawab saya. "Yang penting, kegiatan itu membuat kepribadian yang bersangkutan menjadi SIGAP dan GiGIH. Mengapa begitu ? Karena KEPRIBADIAN itu DITUNTUT oleh perusahaan".

Jadi, apakah Anda sudah mempunyai KEPRIBADIAN sesuai yang dituntut perusahaan ? Kalau belum, LATIHLAH kepribadian Anda dengan olah raga yang menunjang kekuatan kepribadian yang dituntut tersebut.



-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Senin, 07 September 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 07 September 2015


GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi, Kandidat Psikolog Industri)


Edisi : Senin, 7 September 2015

* * * * *

TOKOH IDOLA. Siapa tokoh idola Anda ? Atau, apakah Anda sudah punya tokoh idola ?

"Lha kenapa kamu bertanya tentang tokoh idola orang lain ?" tanya Slontrot.

"Karena tokoh idola seseorang itu bisa menggambarkan dia itu seperti apa," jawab saya.

"Maksud kamu ?" tanya Slontrot lagi.

"Kalau kamu punya tokoh idola orang yang baik hati dan penuh kasih saya, ya kamu itu seperti itu....setidaknya ingin atau berproses menjadi seperti tokoh idola itu," kata saya.

Slontrot mengangguk-anggukkan kepala. 

* * * * *

Dalam meniti karir pekerjaan, diperlukan juga adanya tokoh idola. Tokoh idola ini akan memberikan inspirasi bahkan petunjuk tentang bagaimana supaya menjadi sukses seperti dia. Lewat apa ? Lewat buku biografi atau otobiografi tentang tokoh idola itu !

Sejak saya masih SMP, tokoh idola saya adalah Arswendo Atmowiloto (penulis), Y.B. Mangunwijoyo (arsitek, penulis, rohaniwan), dan Dick Hartoko (penulis, rohaniwan). Saya membaca buku-buku / tulisan karya mereka, juga biografi / autobiografi mereka sehingga tahu bagaimana kehidupan mereka dan bagaimana perjuangan mereka. Itu sebabnya, saya sekarang hidup dan bekerja di bidang yang tidak jauh-jauh amat dari tulis-menulis.

Tentu saja, memilih tokoh idola harus sejalan dengan cita-cita di masa depan.

"Bagaimana kalau seorang mahasiswa jurusan Perikanan misalnya, tetapi ternyata memiliki tokoh-tokoh idola justru yang terkenal sebagai penulis ?" tanya Slontrot.

"Ha.....ha.....ha.....," saya tertawa terbahak-bahak. "Itu adalah saya ! Saya menyelesaikan pendidikan sebagai Insinyur Perikanan dari Undip, jauh sebelum saya akhirnya kuliah lagi dalam bidang Psikologi Industri. Ya boleh-boleh saja, 'kan ? Tetapi ya nantinya kalau kerjanya di bidang seperti saya ini, ya jangan heran....."



-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi