Tampilkan postingan dengan label Sketsa Training. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Training. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015


SEMINAR
MERAIH SUKSES MENGGAPAI MIMPI
Oleh : Bp. F. Widarto Subagio, S.E

DIIKUTI OLEH JAJARAN DIREKSI BPR RESTU GROUP SEMARANG



    Foto 1 : Pengarahan dari Bp. Drs. Didik Yochanan, M.M
                  Komisaris Utama BPR Restu Mandiri Makmur




Foto 2 : Peserta sedang dilatih untuk fokus menggunakan kekuatan Otak kanan.


Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO


Kamis, 23 April 2015




PELATIHAN SURVEYOR
Semarang, 23 April 2015

Bp. Himawan Hendarto, S.E
S1 Fakultas Ekonomi, UNISSULA Semarang
LSP CERTIF Sertifikasi Profesi Direktur BPR







Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO



Kamis, 16 April 2015

PELATIHAN ADMINISTRATION HEAD BPR RESTU GROUP

PELATIHAN ADMINISTRATION HEAD BPR RESTU GROUP

Semarang, 16 April 2015






 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO






Kamis, 19 Maret 2015


Sketsa Training  Bersama Mbak Happy 

BELAJAR MEMBUAT Term of Reference (TOR) 

Term of Reference (TOR) adalah gambaran tujuan, ruang lingkup dan struktur sebuah proyek (kegiatan) atau kepanitiaan yang telah disepakati untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Definisi di atas mungkin terlalu umum dan sulit dipahami. Penjelasan secara sederhana, jika kita mengadakan sebuah kegiatan, tentunya ada alasan (motif) kenapa kita melakukanya, batasan sejauh apa kita mau melakukannya dan untuk apa kita melakukannya. Itulah yang dituangkan dalam TOR.

 Belajar Dari Pengalama
Suatu hari di tahun 2014 , saya menjadi moderator sekaligus panitia training. Yang saya lakukan beberapa hari sebelum hari H adalah mempersiapkan semuanya (ruangan training, peserta training, materi training dll). Saya menghubungi trainer sekaligus meminta materi yang akan dipresentasikan pada training tersebut. Karena saya (pada saat itu) belum mengetahui apa itu TOR, maka saya hanya menerima materi tersebut tanpa melihat isinya. Hari H trainingpun tiba. Semua berjalan lancar, setibanya trainer tersebut melakukan presentasi , ternyata apa yang dipresentasikan dengan judul pelatihan tersebut bertolak belakang (kagak nyambung kalo orang betawi bilang). Setelah pelatihan tersebut selesai, para peserta mengisi kesan dan pesan. Dan sesuai dugaan saya, di dalam kesan dan pesan tersebut banyak yang menyampaikan bahwa pelatihan tersebut tidak tepat sasaran. Nah dari pengalaman tersebut , untuk sekarang dan selanjutnya saya akan membuat TOR terlebih dahulu agar materi yang akan disampaikan tepat sasaran.

TOR untuk Narasumber
Dalam hal ini, TOR berarti dokumen yag menunjukkan batasan materi yag perlu disampaikan oleh narasumber (pembicara) dan bagaimana kondisi audience (pendengar) saat materi itu diberikan. Maka, ada beberapa poin pokok yang perlu dimasukkan dalam TOR untuk tujuan ini.
Gambar 1 : Contoh Form TOR BPR Restu Group
Keterangan
§  Latar Belakang. Latar belakang ini biasanya muncul dari pertanyaan “Mengapa anda melakukan kegiatan ini?” dari pertanyaan tersebut akan muncul berbagai alasan-alasan yang tanpa disadari adalah memuat latar belakang mengapa harus diadakan kegiatan tersebut.

§  Tujuan. Sampaikan juga, alasan kenapa materi ini perlu disampaikan. Bila perlu buat dalam kategori tujuan umum dan tujuan khusus.

§  Peserta. Berikan juga gambaran kondisi peserta yang perlu diketahui sebelumnya oleh pemateri.

§  Materi. Hukumnya wajib dan mutlak (mutlaq pake Q kalao perlu). Sering ditemui permintaan tolong mengisi materi, judulnya “tentang KEPRAMUKAAN”. Padahal materi berhubungan dengan kepramukaan ada banyak. maka, jika anda menjadi panitia sebuah pelatihan, pastikan setiap materi memiliki judul yang spesifik. Bila perlu, sampaikan materi-materi apa saja yang sudah diberikan dan akan diberikan.

§  Metode. Bagaimana hendaknya materi akan disampaikan. Apakah menghendaki ada waktu untuk tanya jawab, praktek atau penugasan?

§  Nama Trainer. Pastikan nama trainer yang akan mengisi/ menjadi pemateri pada kegiatan tersebut.

§  Nama Pelatihan / Judul . Logikanya, jika anda memilih sebuah judul materi untuk disampaikan pada peserta, anda sudah tahu gambaran isi materi yang akan disampaikan. Tidak masalah jika gambaran itu nanti berbeda dengan yang ada dalam pemikiran pemateri. Setidaknya, jika sudah ada garis besar isi materi, pemateri lebih mudah mempersiapkan diri.

§  Hari/ Tanggal, Waktu, Lokasi . Hari/Tanggal, Waktu dan Lokasi ini harus dipastikan agar peserta dapat mempersiapkan diri dan mengetahui Lokasi tempat kefiatan tersebut dilaksanakan.

§  Evaluasi. Evaluasi Level I      Apakah peserta merasakan puas dengan training ini ?
Evaluasi Level II Apakah ada perubahan pada diri peserta training SEBELUM dan     SESUDAH training dilakukan ?
Evaluasi Level III Apakah peserta selama satu minggu, satu bulan, dan dua bulan setelah training menunjukkan adanya PERUBAHAN POSITIF sesuai TUJUAN yang hendak dicapai oleh training ini ?
Evaluasi Level IV Apakah training sudah memberikan IMPACT (DAMPAK / AKIBAT) secara NYATA.


Poin-poin di atas hanya salah satu alternatif yang sering saya masukkan jika saya membuat TOR untuk narasumber.
Bagi yang belum terbiasa dengan istilah TOR ini, biasakanlah. Karena akan sangat berpengaruh terhadap efektifitas pelatihan yang anda selenggarakan. Meskipun anda sekedar menyelenggarakan kegiatan rutin yang (menurut anda) sudah jelas arahnya. Pembicara yang tidak terbiasa menerima TOR mungkin akan beranggapan “Ah, kenapa harus repot seperti ini?”
Biasanya orang itu tipe orang yang ketika menyampaiakn materi cukup dengan yang standard dan apa adanya. Tanpa melihat siapa pendengarnya dan perkembangan materi yag akan dibawakannya.

 --oOo---
 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO

Kamis, 12 Maret 2015

Kiat Membangun Organisasi yang Sukses


Sketsa Training  Bersama Mbak Happy





Gambar 1 : Pelatihan Strategic Marketing Supervisory 12 Maret 2015






Untuk membangun sebuah organisasi yang sukses, perlu ada berbagai orang yang memainkan peran berbeda dalam organisasi agar organisasi  dapat berjalan lancar.
Beberapa peran dapat ditentukan dengan mudah sementara yang lain mungkin memiliki batas-batas yang lebih membingungkan, misalnya, apa perbedaan antara Leaders dan Managers ?
1. Leader melakukan inovasi, sedangkan manajer mengelola.
Ini berarti bahwa seorang leader atau pemimpin adalah orang yang datang dengan ide-ide baru dan menggerakkan seluruh organisasi ke dalam fase berpikir untuk maju. Orang ini harus terus-menerus  mengembangkan strategi-strategi dan taktik baru . Dia harus memiliki pengetahuan tentang tren terbaru, penelitian, dan keahlian.
Di sisi lain, manajer mempertahankan apa yang telah ditetapkan. Orang ini harus mempertahankan kontrol dan mengatasi gangguan dalam organisasi yang mungkin ada.
Dalam bukunya The Wall Street Journal Essential Guide to Management: Lasting Lessons from the Best Leadership Minds of Our Time, Alan Murray mengutip Drucker bahwa seorang manajer adalah seseorang yang menetapkan target yang tepat, tolok ukur, analisis, dan menilai kinerja. Manajer memahami orang-orang yang bekerja bersama mereka dan tahu mana orang yang terbaik untuk tugas-tugas tertentu.
2. Leader menginspirasi sementara manajer bergantung pada kontrol.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang menginspirasi orang lain untuk menjadi yang terbaik dan tahu cara yang tepat mengatur tempo serta kecepatan untuk seluruh kelompok.
Kepemimpinan adalah bukan apa yang Anda lakukan-tetapi apa yang orang lain lakukan sebagai respon dari Anda. Jika tidak ada yang muncul di barisan Anda, maka Anda bukanlah  seorang pemimpin.
Dan jika orang memutuskan untuk ikut dalam “kapal” Anda karena Anda telah menginspirasi mereka, maka itu berarti bahwa Anda telah membuat suatu ikatan kepercayaan dalam perusahaan. Ini adalah hal yang penting karena jika bisnis berubah dengan cepat dan membutuhkan orang untuk percaya dalam suatu misi, maka orang ini bisa menjadi pilihan yang tepat.
Adapun manajer, Drucker menulis bahwa tugas mereka adalah untuk mempertahankan kontrol atas orang dengan membantu mereka mengembangkan aset mereka sendiri dan mengeluarkan bakat mereka yang terbesar. Untuk melakukan ini secara efektif, Anda harus tahu orang-orang yang bekerja dengan dan memahami kepentingan mereka serta passionnya.
Manajer kemudian menciptakan keputusan tentang gaji, promosi penempatan, dan melalui komunikasi dengan tim. Mengelola proyek adalah satu hal, memberdayakan orang lain adalah hal lain.
3. Pemimpin bertanya “what” dan “why,” sedangkan manajer bertanya   “how”.
Untuk bertanya apa  dan mengapa Anda harus mampu mempertanyakan mengapa orang lain melakukan tindakan-tindakan tertentu yang terjadi. Kadang-kadang ini mengharuskan Anda menantang atasan.
Ini berarti bahwa mereka mampu stand up untuk manajemen ketika mereka berpikir sesuatu  yang perlu dilakukan bagi perusahaan. Pemimpin tidak selalu benar tentunya.
Jika perusahaan Anda mengalami kegagalan, pekerjaan leader adalah untuk datang dan berkata, “Apa yang kita pelajari dari hal ini?” Dan “Bagaimana kita menggunakan kegagalan  ini untuk memperjelas tujuan kita atau mendapatkan sesuatu yang lebih baik?” Sebaliknya, manajer tidak benar-benar berpikir tentang apa artinya kegagalan.
Tugas mereka adalah untuk bertanya “bagaimana” dan “kapan” untuk memastikan mereka melaksanakan rencana yang sesuai. Drucker menulis bahwa manajer menerima status quo dan lebih seperti tentara di militer. Mereka tahu bahwa perintah dan rencana yang penting dan tugas mereka adalah untuk menjaga visi mereka pada tujuan perusahaan saat ini.
Meskipun untuk dua peran mungkin mirip, “Para manajer terbaik juga para pemimpin,” kata Wade. “Saya pikir Anda bisa melakukan keduanya, tetapi Anda harus meluangkan waktu untuk mengolahnya.”
Sumber : Vivian Giang, Business Insider

Dari penjelasan di atas BPR Restu Group mengadakan pelatihan Strategic Marketing Supervisory  yang diikuti oleh SPV , Kepala Kantor Kas dan Manager Marketing dengan tujuan agar selain bisa memimpin anak buah , diharapkan mereka dapat membuat strategi bagi perkembangan organisasi/ perusahaan.

 

--oOo---
 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO

Kamis, 05 Maret 2015

WHAT ARE MINDSETS….????


Sketsa Training  Bersama Mbak Happy 





 

Gambar 1 : Para peserta pelatihan AO – Batch 11A sedang merasakan relaksasi
 




Simply put, your mindset is the attitude you choose to adopt and it can be changed. It is to do with what you think you are capable of achieving. Your mindset is about your attitude to life and all its challenges.
Sederhananya, pola pikir anda adalah sikap yang anda pilih untuk beradaptasi dan hal tersebut bisa dirubah. Pola pikir berkenaan dengan apa yang anda pikirkan mengenai kemampuan anda dalam meraih sesuatu. Pola pikir anda adalah mengenai sikap anda terhadap kehidupan dan segala tantangannya.
Merubah Mindset itu tidak mudah, untuk itu Pak Widarto selaku Trainer pada Pelatihan Basic Training A0- Batch 11A  membantu memperbaiki Mindset  untuk para marketing salah satunya dengan melakukan relaksasi (memasukan hal-hal positif , pikiran positif) pada diri marketing, agar bersemangat dalam bekerja sehingga apa yang ditargetkan tercapai. 


--oOo---

 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO