Tampilkan postingan dengan label PT BPR Restu Mandiri Makmur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT BPR Restu Mandiri Makmur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2015

POLISIKU





Pak Daryo.. Begitulah kami memanggilnya. Beliaulah yang selama ini menjaga kantor kami tercinta “BPR Restu Mandiri Makmur”. Tak kenal hujan dan tak kenal panas, kurang lebih sudah 2 tahun setia memberikan rasa aman untuk para karyawan dan nasabah. Yang bernama lengkap Sudarya dan beralamatkan di Beran Kidul Rt 003/ Rw 028 Tridadi Sleman. Tidak hanya memberikan rasa aman, tapi juga mempercayakan dananya di BPR Restu Mandiri Makmur. Kepada Bapak Sudarya, kami mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasamanya selama ini.

 - Shofiana Ismawati-
Jurnalis Website Contact – PT. BPR Restu Mandiri Makmur

Rabu, 21 Oktober 2015

KEWANEN (bahasa jawa) : Terlalu Berani




     
Kemarin sore tepat di hari selasa 21 Oktober 2015, ada insiden yang menggegerkan orang kantor kami “BPR RESTU MANDIRI MAKMUR”. Terjadi keramaian di depan kantor, serentak kami keluar. Ternyata terjadi kecelakaan antara mobil Brio dan mobil Polisi di daerah UPN Yogyakarta, entah kenapa penyelesaiian antar pengemudi dilakukan di bawah pohon ketapang depan kantor kami “BPR RESTU MANDIRI MAKMUR”. Mungkin karena kerindangan pohon ketapang kami kali yaa… hehe
Usut punya usut keterangan dari pengemudi Honda Brio adanya pengereman mendadak dari pengemudi mobil polisi. Keterangan dari pengemudi mobil polisi berbeda, pengemudi Honda Brio yang lagi tidak fokus. Kurang Aqua mungkin yaa... Dan akhirnya dari pihak polisi menuntut ganti rugi atas kecelakaan tersebut.
“kewanen nabrak mobil e polisi” Serentak kami ucapkan.. hihi
Apapun itu,semoga kasus kecelakaan kemarin bisa di selesaikan dengan baik. Dan kita bisa ambil pelajaran dari kecelakaan kemarin agar selalu menghargai pengguna jalan yang lain dan berhati - hati. Karena jika terjadi sesuatu bukan hanya diri sendiri yang rugi tapi juga orang lain.


- Shofiana Ismawati-
Jurnalis Website Contact – PT. BPR Restu Mandiri Makmur

Meeting 2 kali sehari di BPR Restu Mandiri Makmur





Meeting koordinasi selalu dilakukan para pejuang kami “Marketing”. 2 kali sehari para pejuang kami selalu memberikan informasi terkini terkait pekerjaan masing – masing (Seperti mandi aja ya..). Setiap pagi tepat pukul 09.00 - 09.30 dan sore hari 03.30 – 04.00. Dengan waktu 30 menit setiap pagi memberikan motivasi mereka untuk semangat target setiap harinya. Dan dengan 30 menit setiap sore hari untuk evaluasi apa yang sudah tercapai pada hari itu. Memang, meeting koordinasi ini baru berjalan 1 bulan yang lalu,tetapi kami berharap kebersamaan, komunikasi dan kerjasama yang baik selalu tergerak. Semangat para pejuang kami!!

Selasa, 20 Oktober 2015

PANCAROBA SEGERA HADIR..!!



 


Semangat selasa..!! Siang hari ini saya mulai khawatir dengan cuaca, mendung sudah menyelimuti langit di atas kantor saya tercinta “BPR Restu Mandiri Makmur” anginpun sudah mulai mengombang – ambingkan debu di sekitaran kantor. Teringat cucian yang masih bergelantungan di jemuran, OMG.. sepertinya musim hujan akan segera turun.
Berikut solusi agar tubuh tetap fit di tengah cuaca yang kurang bersahabat :

1. Sempatkan berolahraga secara rutin minimal 3 kali seminggu selam 30 menit.

2. Menjaga kebersihan makanan dan minuman, membersihkan sesudah buang air besar atau menjelang makan serta menjaga kebersihan lingkungan, memberantas lalat, nyamuk, kecoa, semut.

3. Konsumsi makanan bergizi. Daya tahan tubuh yang baik selain butuh makanan yang cukup jumlahnya, juga harus memenuhi semua unsur gizi yang dibutuhkan tubuh yaitu : karbohidrat, lemak,protein,vitamin,dan mineral. Istirahat yang cukup. Tidur 6-8 jam sehari. Kurang istirahat dapat menurunkan daya tahan tubuh kita.

4. Kelola Stress dengan baik. Hanya dengan belajar mengelolanya secara tepat, kita dapat terhindar dari dampak negatif stress seperti sulit tidur, nafsu makan berkurang yang pada akhirnya mempengaruhi daya tahan tubuh kita.

5. Konsumsi minuman sulpemen yang tepat. Sebagian besar dari kita sulit memenuhi kebutuhan gizi harian dengan diet yang seimbang, sehingga suplemen penambah stamina diperlukan terutama di musim pancaroba. Pilih minuman penambah stamina yang benar-benar mengandung vitamin B yang lengkap yang diperlukan untuk menjaga stamina tubuh seperti vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B8 dan B12.. Selain itu, makanan/minuman energi tersebut dalam kemasannya harus mencantumkan kandungan zat, aturan pakai, masa kadaluarsa dan nomor registrasi badan pengawasan obat makanan (BPOM).

6. Bila terjadi keluhan yang serius, segera pergi ke dokter.

7. Perbanyak minum air putih minimal 8 gelas sehari.
Tetap menjaga kesehatan ya.. Jangan sampai kesempatan berhargamu pupus karena lengah menghadapi penyakit. Salam Sehat !
http://www.kucoba.com/2013/03/tips-menjaga-tubuh-tetap-fit-saat.html

Selasa, 13 Oktober 2015

Tradisi Jawa Menyambut Satu Suro




Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.
Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.
Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).
Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu. Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng. Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.
Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.
Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro.
Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.
Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri.
Berikut ini adalah tradisi Satu Suro yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa :

1. Tapa Bisu
Tapa Bisu atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya. Seperti tradisi Tapa Bisu yang di lakukan di kota Yogya, mereka melakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan harapan diberikan yang terbaik untuk Kota Yogya.

2. Kungkum
Kungkum adalah berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, Yang paling mudah ditemui di Jawa khususnya di seputaran Yogyakarta adalah Tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit.

3. Tradisi “upacara /ritual ruwatan”
Tradisi yang hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita “wayang“ dengan lakon Murwakalapada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

4. Ngumbah Keris
Ngumbah Keris adalah tradisi mencuci/membersihkan keris pusaka bagi orang yang memilikinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ngumbah keris menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya waktu tertentu. Lazimnya ngumbah pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro. Oleh karena ngumbah keris mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.

5. Lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk)
Lek – lekan adalah tradisi yang biasanya dilakukan oleh warga warga di kampung. Biasanya para warga dikampung tersebut sudah menyiapkan acara masing-masing. Ada yang sekadar berkumpul dan lek-lekan di pos ronda, mengobrol di depan rumah atau makan-makan di gang.

6.  Ritual Tirakatan
Ritual Tirakatan berasal dari kata Thoriqot atau Jalan, maknanya adalah kita berusaha mencari jalan agar dekat dengan Allah. Dengan kita melakukan ritual ini tanpa disadari ternyata kegiatan tirakatan ini juga telah meningkatkan kemampuan ketingkat yang lebih tinggi lagi, berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, maupun kemampuan fisik dan pengolahan bathin kita untuk menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang kita hadapi.
Berikut tadi adalah tradisi di Malam Satu Suro, namun dalam pandangan Islam itu salah. tapi walaupun begitu bukan berarti kebudayaan tersebut harus dihapus. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus mampu menjaga dan melestarikannya dengan cara membuang yang buruk dan melestarikan yang baik. Ayo bersama-sama melestarikan kebudayaan kita yang sudah mendarah daging. Jangan sampai kita kehilangan kebudayaan lagi.
“Selamat Tahun Baru 1 Suro / 1 Muharram 1437 H”
Yang mau lihat tradisi jogja, monggo.. terbuka lebar untuk para masyarakat, jangan lupa hari kamisnya mampir ke BPR Restu Mandiri Makmur yaa… Ada banyak souvenir untuk para nasabah**
**Syarat dan ketentuan berlaku.. hehe
- Shofiana Ismawati-
Jurnalis Website Contact – PT. BPR Restu Mandiri Makmur