Senin, 20 November 2017

BPR RESTU GROUP LITERASI PERBANKAN & TRAINING MENITI KARIR DI DUNIA KERJA DI SMK PL TARCISIUS I SEMARANG

LITERASI PERBANKAN
& TRAINING MENITI KARIR DI DUNIA KERJA
DI SMK PL TARCISIUS I SEMARANG




     PT BPR Restu Artha Makmur (BPR Restu Group) kembali mengadakan program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan tema "Literasi Perbankan & Training Meniti Karir di Dunia Kerja". Program CSR kali ini diadakan di SMK Pangudi Luhur "Tarcisius I" di Jalan Supriyadi Kota Semarang pada tanggal 20 sampai 24 Nopember 2017, diikuti oleh 240 siswa-siswi Kelas XII.


Wakil Kepala Sekolah SMK Tarcisius 1 Semarang - Bpk  Ignatius


     Wakil Kepala Sekolah Bapak Ignatius dalam sambutan mewakili Kepala Sekolah mengatakan bahwa kegiatan CSR ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi para siswa-siswi dalam memasuki dunia kerja. "Dari para pembicara yang merupakan praktisi di bidangnya, para siswa-siswi dapat mengetahui bahwa intelektual memang perlu, tetapi bukan satu-satunya yang dinilai dalam seleksi penerimaan karyawan baru," kata Wakasek Ignatius.



Praktisi HR -   Ir. Constantinus, S.Psi

     Ilmuwan psikologi sekaligus praktisi HR Ir. Constantinus, S.Psi mengatakan bahwa perusahaan melakukan seleksi penerimaan karyawan baru dengan menilai tujuan hidup, kecerdasan, kepribadian, kompetensi dan / atau pengalaman, dan pendidikan. "Jadi yang nomor satu dilihat perusahaan adalah tujuan hidup pelamar, apakah sesuai dengan visi dan misi perusahaan atau tidak," jelas Ir. Constantinus.

Ibu Hartanti  dari PT BPR Restu Artha Makmur,


     Training ini menghadirkan Ibu Hartanti  dari PT BPR Restu Artha Makmur, yang menjelaskan tentang perbankan pada umumnya dan PT BPR Restu Artha Makmur pada khususnya.

(Bersambung)
 

----- oOo -----
Penulis: 
Constantinus



Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources.
 Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan 
Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
Dokumentasi lainnya:






Sabtu, 18 November 2017

Besarnya Pengaruh Pasangan Hidup Karyawan / Karyawati terhadap Produktivitas di Tempat Kerja



Pojok Psikologi Industri





Besarnya Pengaruh Pasangan Hidup Karyawan / Karyawati 
terhadap Produktivitas di Tempat Kerja


Oleh :
Constantinus
(Ilmuwan Psikologi & Praktisi HR)



Suatu ketika, saya diajak ngobrol santai oleh seorang teman tentang pengaruh pasangan hidup karyawan / karyawati terhadap kemajuan perusahaan.

"Oh, itu jelas sangat penting !"kata saya.

"Lho, kok bisa ?" teman saya menimpali kata-kata saya. "Yang bekerja di perusahaan 'kan karyawan / karyawati ? Yang memajukan perusahaan tentunya karyawan / karyawati !"

*****

     Itulah kenyataan yang masih saja terjadi di (beberapa) perusahaan : dengan pandangan yang sempit melihat bahwa yang memajukan perusahaan adalah karyawan / karyawatinya. Padahal, pasangan hidup sangat besar pengaruhnya dalam memotivasi karyawan / karyawati untuk bekerja dengan baik (atau tidak baik),, bahkan untuk meniti karir di perusahaan itu (atau pindah ke perusahaan lain).

*****

"Saya punya kisah nyata," kata saya. "Ada seorang karyawan bagian penjualan yang bekerja dengan baik sehingga mendapatkan promosi jabatan menjadi supervisor."

Saya berhenti sejenak, memperhatikan teman saya. Dia menyimak cerita saya.

"Sebagai supervisor, dia harus lebih banyak kerja lembur,"saya menjelaskan. "Di sini masalah muncul, karena istrinya takut sendirian di rumah ketika malam hari !"

"Ah, masa' begitu ?"tanya teman saya dengan nada tidak percaya.

"Kenyataannya begitu," kata saya. "Supervisor baru itu lambat tapi pasti mulai jarang lembur. Produktivitasnya jadi menurun. Anak buahnya minta pindah ke supervisor lain, karena supervisor lain mendampingi anak buah ketila lembur."

"Lalu, apa yang terjadi ?"tanya teman saya.

"Supervisor yang istrinya takut ditinggal lembur itu kembali menjadi staf penjualan lagi, dan akhirnya malah mengundurkan diri," jawab saya.

*****

     Apa yang bisa ditarik dari cerita di atas adalah : manajemen jangan berpandangan sempit dengan memfokuskan perhatian pada karyawan / karyawati saja, dan melupakan bagaimana kesiapan istri / suaminya.

"Apa kisah nyata seperti itu banyak terjadi ?"tanya teman saya.

"Ya," jawab saya. "Karyawan / karyawati yang baik akan menjadi tidak baik ketika istri / suaminya tidak lagi memberi dukungan untuk bekerja dengan baik. Cepat atau lambat, karyawan / karyawati yang tidak mendapat dukungan dari pasangan hidupnya, menjadi tidak produktif, dan bahkan akhirnya mengundurkan diri. Itulah sebabnya, manajemen harus mengukur dan memperhatikan dukungan istri / suami karyawan / karyawati."

----- oOo -----


Penulis: 
Constantinus



Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources.
 Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan 
Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi

Jumat, 17 November 2017

PENTINGNYA TUJUAN HIDUP - CELOTAH & CELOTEH (Bacaan Santai dan Berisi) - Edisi : Jumat, 17 November 2017


CELOTAH & CELOTEH
(Bacaan Santai dan Berisi)

Edisi : Jumat, 17 November 2017

PENTINGNYA TUJUAN HIDUP



CELOTAH : Dalam menyeleksi pelamar kerja, apa yang pertama-tama diperhatikan oleh perusahaan ?

CELOTEH : Tujuan hidup pelamar itu apakah sejalan dengan visi & misi perusahaan, atau tidak.

CELOTAH : Kalau ada pelamar yang pengalaman kerjanya bagus tetapi tujuan hidupnya tidak sejalan dengan visi & misi perusahaan, apa tidak diterima jadi karyawan ?

CELOTEH : Tergantung apakah perusahaan itu membutuhkan pengalaman yang dimiliki pelamar itu atau tidak. Tetapi cepat atau lambat, akan muncul masalah, sebab karyawan yang tujuan hidupnya tidak sejalan dengan visi & misi perusahaan, akan selalu membuat masalah di tempat kerjanya.


----- oOo -----
Penulis: 
Constantinus


CELOTAH&CELOTEH adalah serba-serbimanajemen SDM dalam obrolan ringan 
yang ditulis oleh Constantinus, seorang ilmuwan psikologi & praktisi HR
 

Kamis, 16 November 2017

CELOTAH & CELOTEH (Bacaan Santai dan Berisi) - Edisi : Kamis, 16 November 2017

CELOTAH & CELOTEH
(Bacaan Santai dan Berisi)

Edisi : Kamis, 16 November 2017

KOMUNIKATIF





CELOTAH : Apakah tuntutan perilaku komunikatif di group perusahaan ini sama dengan tuntutan perilaku komunikatif diperusahaan lain ?

CELOTEH : Bisa sama, bisa beda.

CELOTAH : Kalau di group perusahaan ini, tuntutan perilaku komunikatif itu seperti apa ?

CELOTEH : SDM harus mampu berkomunikasi dengan santun, tepat,dan bijaksana.

CELOTAH : Saya kok masih belum jelas, ya ? Apa bisa diberikan kata kunci-nya ?

CELOTEH : Begini. Di group perusahaan ini, SDM yang komunikatif itu bukan sekedar bisa beramah-tamah saja, tetapi harus detail dalam memberikan informasi, informasi yang diberikan harus berdasarkan "control - on time"artinya sesuai dengan kondisi nyata yang terbaru. Selain itu, handphone harus nyala 24 jam termasuk hari Minggu maupun hari libur, ada nomor handphone cadangan / alternatif yang tetap bisa dihubungi oleh atasan / rekan kerja / anak buah di saat darurat, dan responsif yaitu pesan yang masuk harus dijawab dalam waktu maksimal 10 (sepuluh) menit.

CELOTAH : Lho ? Kalau di luar jam kerja,saya sedangtidur, atau sedang mandi, atau handphone sedang di-charge, bagaimana bisa menjawab pesan dalam waktu maksimal 10 (sepuluh) menit ?

CELOTEH : Handphone harus  tetap nyala ketika sedang di-charge.Ingat, ketaatan pada budaya perusahaan yang sudah ada sejak perusahaan ini berdiri adalah sangat penting ! Kalau di luar jam kerja,dan kamu sedang mandi, atau sedang tidur, maka pesan harus dijawab pada kesempatan pertama, dengan didahului kata maaf karena sedang tidur atau sedang mandi sehingga pesan baru bisa dijawab lebih dari 10 (sepuluh) menit.


----- oOo -----

Penulis: 
Constantinus


CELOTAH&CELOTEH adalah serba-serbimanajemen SDM dalam obrolan ringan 
yang ditulis oleh Constantinus, seorang ilmuwan psikologi & praktisi HR