Rabu, 13 Desember 2017

KALIBRASI PAD PRODUKTIVITAS BAGI PELANGGAR BUDAYA PERUSAHAAN - Edisi : 13 Desember 2017


"KALIBRASI PAD PRODUKTIVITAS BAGI PELANGGAR BUDAYA PERUSAHAAN"
-13 Desember 2017-

Oleh :
Constantinus
(Ilmuwan Psikologi, Praktisi Psikologi Industri)


Siapa penanggung jawab budaya perusahaan ?

Penanggung jawab budaya perusahaan adalah sumberdaya manusia
yang levelnya paling tinggi di kantor tersebut.
Apabila level paling tinggi di kantor tersebut
ada lebih dari satu orang, maka ditunjuk oleh Pemimpin Divisi
salah satu orang yang menjadi penanggung jawab
budaya kerja di kantor tersebut.


Siapa penanggung jawab budaya perusahaan di lingkup group ?

Penanggung jawab budaya perusahaan di lingkup group
adalah HR Korporat.


Apakah seorang karyawan dapat diputus hubungan kerjanya
karena melanggar budaya perusahaan ?

Seorang karyawan tetap dapat diputus
hubungan kerjanya karena melanggar
budaya perusahaan.
Pelanggaran yang dilakukan adalah tidak menaati 
peraturan perusahaan dan/ atau perintah atasan.
Karyawan tersebut mendapakan Form Coaching sampai dengan
Surat Peringatan, dan akhirnya bila tidak ada
perbaikan, maka diputus hubungan kerjanya.


Apa pengaruh pelanggaran budaya perusahaan pada
PAD (Performance Appraisal yang Disempurnakan) ?

Pelanggaran budaya perusahaan otomatis berperngaruh 
pada integritas dan juga kompetensi 
(sebab, di dalam kompetensi terkandung sikap kerja).


Apabila seorang karyawan melanggar budaya perusahaan
sehingga integritas mendapatkan nilai 7,5 (maksimum 15), dan
kompetensi mendapat nilai 7,5 (maksimum 15), sehingga 
total adalah 15, apakah produktivitas tetap bisa mendapat
nilai 70 (maksimal 70) karena produktivitasnya istimewa ?

Tidak bisa ! Karena budaya perusahaan masih belum mengkristal
sebagaimana penilaian pengusaha, maka karyawan yang
integritasnya + kompetensi <24, nilai produktivitas konversi sebagai berikut :

Integritas + kompetensi = 21 s.d kurang dari 24,
nilai produktivitas dikalikan 0,7.
Misal : aslinya 70, hanya jadi 49.

Integritas + kompetensi = 18 s.d kurang dari 21,
nilai produktivitas dikalikan 0,6.
Misal : aslinya 70, hanya jadi 42.

Integritas + kompetensi = kurang dari 18,
nilai produktivitas dikalikan 0,5.
Misal : aslinya 70, hanya jadi 35.

Ini dilakukan untuk rekap PAD Januari s.d Desember 2017,
supaya karyawan yang tidak taat pada budaya perusahaan
jangan sampai mendapat PAD bagus.



----- oOo -----


Penulis: 
Constantinus






Penulis adalah ilmuwan psikologi,
kandidat psikolog industri & organisasi,
praktisi manajemen sumberdaya manusia,
komisaris BPR Restu Group,
dan anggota Keluarga Sabuk Hitam INKADO Jawa Tengah

Selasa, 12 Desember 2017

HIRARKI 5 ASPEK - CELOTAH & CELOTEH (Bacaan Santai dan Berisi) - Edisi 12 Desember 2017

HIRARKI 5 ASPEK
(Lanjutan Edisi 29 Nopember 2017)


Oleh :
Constantinus
(Ilmuwan Psikologi, Praktisi Psikologi Industri)
CELOTAH : Tempo hari sudah dijelaskan bahwa ranking pertama yang dinilai perusahaan adalah tujuan hidup, ranking kedua adalah kecerdasan, ranking ketiga adalah kepribadian. Untuk ranking keempat dan kelima, apa ya ?
CELOTEH : Ranking keempat adalah kompetensi. Kompetensi adalah gabungan dari pengetahuan, ketrampilan, dan sikap untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu.
CELOTAH : Yang kelima ?
CELOTEH : Ranking kelima adalah pendidikan.
CELOTAH : Wah, ternyata pendidikan itu tidak penting, ya ?
CELOTEH : Tetap penting ! Kalau tidak penting, kan tidak masuk dalam Hirarki 5 Aspek !
CELOTAH : Oh, iya ya.....
----- oOo -----

Penulis: 
Constantinus





Penulis adalah ilmuwan psikologi,
kandidat psikolog industri & organisasi,
praktisi manajemen sumberdaya manusia,
komisaris BPR Restu Group,
dan anggota Keluarga Sabuk Hitam INKADO Jawa Tengah

Senin, 11 Desember 2017

WORKSHOP MENINGKATKAN KECERDASAN BERHITUNG - Edisi 11 Desember 2017

"Workshop Meningkatkan Kecerdasan Berhitung"
Oleh :
Constantinus
(Ilmuwan Psikologi, Praktisi Psikologi Industri)


PPSDM Mengadakan Workshop Meningkatkan Kecerdasan Berhitung
Keterangan :
Workshop tentang meningkatkan kecerdasan berhitung yang
diadakan oleh CV LPK PPSDM Restu Group
8 Desember 2017
CV LPK PPSDM Restu Group (PPSDM) kembali mengadakan workshop tentang meningkatkan kecerdasan berhitung bagi para karyawan dan karyawati BPR Restu Group. Constantinus selaku pemimpin workshop menyampaikan kepada para peserta tentang perlunya para karyawan dan karyawati BPR Restu Group meningkatkan kecerdasan dalam berhitung. "Budaya perusahaan BPR Restu Group secara jelas mengatakan bahwa sumberdaya manusia harus cerdas dalam bekerja dan beraktivitas. Artinya, perusahaan memang menuntut bahwa karyawan dan karyawati harus cerdas, bukan sekedar tekun, bukan sekedar ulet, karena kata yang dipilih adalah cerdas," kata Constantinus.
Lebih lanjut Constantinus juga menjelaskan bahwa kecerdasan berhitung sangat penting dikuasai karyawan dan karyawati karena BPR Restu adalah perusahaan di bidang perbankan. "Bekerja di bank itu memang harus cerdas berhitung. Kalau tidak cerdas dalam hal menggambar atau dalam hal musik, tidak masalah kalau bekerja di bank. Tetapi bekerja di bank, misalnya di Bank Perkreditan Rakyat Restu Group, memang harus cerdas dalam berhitung," tambah Constantinus.


Peserta sepanjang workshop diajak mengerjakan berbagai tipe soal berhitung dengan cara yang cepat dan mudah, sehingga membuat peserta merasa senang dan rasa percaya dirinya meningkat. Dengan merasa senang, maka peserta akan berkali-kali mengerjakan soal-soal berhitung di rumah atas inisiatif sendiri, menggunakan buku yang sudah dibagikan di saat workshop.


"Witing isa jalaran saka kulina," kata Constantinus. "Artinya, karena terbiasa mengerjakan soal-soal berhitung, maka akan jadi mahir. Dan itu semua dasarnya adalah rasa senang, karena berhitung itu mudah dan keren".


----- oOo -----
Penulis: 
Constantinus




Penulis adalah ilmuwan psikologi,
kandidat psikolog industri & organisasi,
praktisi manajemen sumberdaya manusia,
komisaris BPR Restu Group,
dan anggota Keluarga Sabuk Hitam INKADO Jawa Tengah

Sabtu, 09 Desember 2017

Menyejahterakan Keluarga



"Menyejahterakan Keluarga"

Oleh :
Constantinus
(Ilmuwan Psikologi, Praktisi Psikologi Industri)

*****


"Buat apa kamu bekerja ?" tanya Slontrot kepada saya. Saya heran, Slontrot mengajukan pertanyaan yang filosofis seperti ini.

"Untuk menyejahterakan keluarga," jawab saya.

"Lho, bukan untuk memajukan perusahaan ?" tanya Slontrot.

"Bukan. Memajukan perusahaan hanyalah cara yang saya pilih untuk menyejahterakan keluarga," jawab saya.

"Memangnya ada cara lain untuk menyejahterakan keluarga ?" tanya Slontrot lagi.

"Ada. Dengan menggerogoti perusahaan. Tapi saya tidak mau cara ini. Sebab, kesejahteraan buat keluarga dengan cara ini tidak langgeng," kata saya.


*****

Di tahun 2004 sampai 2005, saya bertemu orang yang menyejahterakan keluarganya dengan cara menggerogoti perusahaan di mana dia bekerja. Dengan berbagai cara, orang ini selalu membuat celah supaya dapat mengambil keuntungan pribadi. Tidak heran, perusahaan di mana dia bekerja akhirnya bangkrut.

Menariknya, orang ini kemudian membuat usaha sendiri. Dan tidak mengherankan juga, usaha yang dirintisnya itu bangkrut juga.

"Apa penyebabnya ?" tanya Slontrot.

"Dia tidak punya pengalaman membesarkan perusahaan. Selama bekerja di perusahaan milik orang lain, dia memupuk kompetensi menggerogoti perusahaan itu. Dia tidak punya kompetensi membesarkan perusahaan. Maka, perusahaan yang dirintisnya bangkrut," jawab saya.

Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman nyata di atas adalah bekerjalah dengan penuh tanggung jawab untuk menyejahterakan keluarga, meskipun perusahaan itu adalah milik orang lain. Orang yang bekerja dengan penuh tanggung jawab untuk membesarkan perusahaan sebenarnya memupuk kompetensi pribadi.

----- oOo -----


Penulis: 
Constantinus



Penulis adalah ilmuwan psikologi,
kandidat psikolog industri & organisasi,
praktisi manajemen sumberdaya manusia,
komisaris BPR Restu Group,
dan anggota Keluarga Sabuk Hitam INKADO Jawa Tengah



Kamis, 07 Desember 2017

STRONG LEADERSHIP - CELOTAH & CELOTEH (Bacaan Santai dan Berisi) - Edisi 08 Desember 2017

CELOTAH & CELOTEH 

(Bacaan Santai dan Berisi)
Edisi : Jumat, 08 Desember 2017


STRONG LEADERSHIP


Setiap atasah harus punya strong leadership
untuk mengembangkan dirinya sendiri
maupun anak buahnya.


Pengembangan untuk diri sendiri maupun untuk 
anak buah terdiri dari 2 (dua) aspek :

1. Aspek teknis pekerjaan
2. Aspek non teknis pekerjaan, yaitu 
untuk pengembangan diri


Apabila seseorang hanya mengembangkan aspek teknis
saja, maka ke depannya dia diharapkan
menjadi tipe pekerja.

Apabila seseorang hanya mengembangkan aspek teknis
sekaligus pengembangan diri nya, maka 
ke depannya dia diharapkan menajadi
pemimpin.



----- oOo -----

Penulis: 
Constantinus




CELOTAH & CELOTEH adalah serba-serbi manajemen SDM dalam obrolan ringan 
yang ditulis oleh Constantinus, seorang ilmuwan psikologi & praktisi HR



Rabu, 06 Desember 2017

KOMUNIKASI "Dengan Santun, Tepat, dan Bijaksana" - CELOTAH & CELOTEH (Bacaan Santai dan Berisi) - Edisi 07 Desember 2017


CELOTAH & CELOTEH 

(Bacaan Santai dan Berisi)
Edisi : Kamis, 07 Desember 2017


KOMUNIKASI
"Dengan Santun, Tepat, dan Bijaksana"


Mampu berkomunikasi dengan santun, tepat,
dan bijaksana.


Berkomunikasi = komunikasi secara verbal,
non verbal, dan mendengarkan secara aktif.


Santun = responsif (kalau menjawab dengan WA atau
sejenisnya, maksimum 10 menit setelah pesan diterima),
menggunakan kata yang dipilih sesuai
dengan tujuan komunikasi.


Tepat = menggunakan komunikasi verbal
maupun non verbal dengan detail, kontrol secara
on time dengan kondisi riil.


Bijaksana = selalu siap diajak berkomunikasi
(selalu siap dihubungi 24 jam sehari, 365 hari
dalam setahun), ada handphone cadangan 
yang selalu siap dihubungi kalau handphone utama
sedang ada gangguan.



----- oOo -----

Penulis: 
Constantinus




CELOTAH & CELOTEH adalah serba-serbi manajemen SDM dalam obrolan ringan 
yang ditulis oleh Constantinus, seorang ilmuwan psikologi & praktisi HR