Senin, 09 Maret 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 09 Maret 2015



GADO-GADO
Bersama Pak Tinus
(Ilmuwan dan Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia, Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi)





Keterangan Foto :
"Sedia Payung Sebelum Hujan"
(Foto oleh Ir. Constantinus di Giant - Puri Anjasmoro Semarang)

* * *

SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN. Kalimat yang saya pelajari sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar Pangudi Luhur "Santo Yusup" Semarang antara tahun 1977 sampai 1983 itu sepertinya tidak pernah usang. Ya, sampai sekarang pun (tahun 2015), payung selalu dibeli orang sebelum hujan, supaya ketika hujan turun, payung tersebut sudah siap dipakai.

* * *

"Tapi 'kan kita kemarin beli payung ketika sudah hujan," kata istri saya.

Saya tersenyum.

Memang benar, minggu lalu, saya dan istri sedang berbelanja di Pasaraya Sri Ratu - Pemuda Semarang. Waktu itu, saya dan istri pulang dari kantor langsung pergi berbelanja malam hari. Turun dari mobil, payung tidak kami bawa, padahal di mobil kami ada tiga payung besar. Kenapa ? Karena kami BERPIKIR (= MENDUGA) bahwa malam itu tidak akan turun hujan.

Ternyata PIKIRAN (= DUGAAN) kami salah. Ketika kami mau pulang / keluar dari toko tersebut menuju mobil yang kami parkir di tempat parkir terbuka (tidak di dalam gedung parkir), kami kaget karena hujan turun dengan lebat.

Banyak pengunjung toko yang mau pulang juga terpaksa berteduh menunggu hujan reda. Saya dan istri juga.

Tetapi hujan deras tampaknya masih akan turun lebih lama lagi. Maka istri saya mengajak saya membeli payung di toko tersebut, supaya bisa kami pakai menuju mobil kami.

Jadilah, untuk kali itu, pepatah SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN tidak berlaku bagi kami. Kami membeli payung PADA SAAT HUJAN sudah turun dengan lebat.

* * *

"Berarti SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN itu maksudnya bukan sekedar PUNYA payung seperti kamu, tapi malah kamu TINGGAL di dalam mobil, ya ?" kata Slontrot.

Saya heran. Slontrot kali ini terlihat kritis dan cerdas.

"Iya," kata saya. "Percuma saja kita PUNYA payung kalau tidak kita BAWA sehingga SIAP kita PAKAI ketika hujan TIBA-TIBA turun.

* * *

Dalam dunia kerja, entah pada saat sedang MELAMAR kerja, entah pada saat SUDAH bekerja, semua PENGETAHUAN, KETRAMPILAN, dan SIKAP PROFESIONAL kita harus selalu kita BAWA supaya SETIAP SAAT bisa kita PAKAI untuk mengatasi masalah yang bisa datang DI SAAT YANG TIDAK TERDUGA. 


-----oOo----- 

enulis: 

Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi 



Jumat, 06 Maret 2015

Knowing Closely . . . .

Knowing Closely . . . .



The Happy Family of Mr. Didik Yochanan
(The Commisioner in BPR Restu Group)
(Komisaris di BPR Restu Group)





Left to Right:
Mrs.Margareta Puji Sihtani
Ms. Ane Yoshinta Angestie
Mr. Didik Yochanan
Ms. Aneta Yoshinta Angestie



Posted by:
Ayu Sendilla Kartika, S. Hum

Alumni of Diponegoro University

'Teliti' Sebelum Mem'beli'

Obras (Obrolan Santai) bersama Linda
Serba-Serbi "Hubungan Industrial"



'Teliti' Sebelum Mem'beli'


Apa yang kalian pikirkan saat kalian sakit? pergi ke dokter atau langsung minum obat? Bisa jadi , salah satu jawabannya. Bahkan bisa dua-duanya. Periksa ke dokter kemudian minum obat juga anjurannya. Kalau langsung membeli obat sendiri pastinya kita sudah tahu jenis obat apa yang mau kita pilih dan minum. Mulai dari merk, khasiat, komposisi, hingga bulan dan tahun produksi bahkan tahun kadaluarsa. Tujuannya untuk kesehatan, mana boleh coba-coba. Harus lebih 'teliti' pasti. 

Sama halnya, pada waktu kita dalam pekerjaan. Kita yang telah terpilih mengisi jabatan dalam perusahaan. Jika kita telah bergabung, kita menjalani kontrak/perjanjian kerja tertulis. Dalam perjanjian pasti tertulis nama perusahaan, peraturan perusahaan, gaji/upah yang diberikan, hingga masa kontrak dimulai sampai masa kontrak berakhir. 

Kesehatan dan pekerjaan sama-sama penting untuk kelangsungan hidup. Berarti, hal detail yang seperti itu perlu kita perhatikan sebelum melakukan tindakan selanjutnya. 



-----oOo-----


Penulis : 
Linda Tetelepta, S.A.P


Alumni Universitas Diponegoro 
Anggota APIO

Kamis, 05 Maret 2015

WHAT ARE MINDSETS….????


Sketsa Training  Bersama Mbak Happy 





 

Gambar 1 : Para peserta pelatihan AO – Batch 11A sedang merasakan relaksasi
 




Simply put, your mindset is the attitude you choose to adopt and it can be changed. It is to do with what you think you are capable of achieving. Your mindset is about your attitude to life and all its challenges.
Sederhananya, pola pikir anda adalah sikap yang anda pilih untuk beradaptasi dan hal tersebut bisa dirubah. Pola pikir berkenaan dengan apa yang anda pikirkan mengenai kemampuan anda dalam meraih sesuatu. Pola pikir anda adalah mengenai sikap anda terhadap kehidupan dan segala tantangannya.
Merubah Mindset itu tidak mudah, untuk itu Pak Widarto selaku Trainer pada Pelatihan Basic Training A0- Batch 11A  membantu memperbaiki Mindset  untuk para marketing salah satunya dengan melakukan relaksasi (memasukan hal-hal positif , pikiran positif) pada diri marketing, agar bersemangat dalam bekerja sehingga apa yang ditargetkan tercapai. 


--oOo---

 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO



Rabu, 04 Maret 2015

Malas ? Kelaut Aja......!!!

“Dunia Psikologi Industri”
Cerita Rasa Nano-Nano kadang Manis, Asin, Pedas bersama Dyas


Siang ini ketika membuka BBM di hp ada teman menggunggah gambar animasi malas sepeti dibawah ini. Menulis status dengan kata-kata harus melawan rasa malas. Memang ketika dalam pekerjaan kadang kita merasa malas tetapi jangan terlalu tergiur oleh rasa malas itu. Justru akan menambah beban pekerjaan dan tidak target oriented.





Kebanyak orang Indonesia kadang merasa malas dengan rutinitas pekerjaan. Sebaik apapun potensi yang dimiliki, orang malas akan sulit berkembang. Cara mengusir rasa malas sebetulnya sangat sederhana. ‘’ Berhenti berfikir dan lakukan saja ‘’. Stop dreaming and just do it now! Lakukan saja sesuatu yang kita malas untuk mengerjakannya. Simple! 


Berhenti berfikir adalah cara kita mengusir “alasan” untuk menunda dan “rasa takut” untuk melakukan. Langsung melakukan membuat kita langsung menceburkan diri. Sulit rasanya keluar jika kita sudah terlanjur basah. Itulah resepnya.

--oOo--


Penulis:

Rahmi Hardyastuti, S.Psi


Alumni  2013 - Universitas Islam Sultan Agung 
Anggota APIO


Selasa, 03 Maret 2015

Berpikir Cerdas Untuk Menggaet Konsumen Cucian Motor Plus Terapi Ikan

Pojok CS-KS
Cerita Santai, Karir, dan Seleksi " bersama Kang Franes



Setiap harinya cucian motor dekat kosan saya itu selalu dipenuhi pelanggan, ada apa yang membuat tempat itu begitu menarik???

Sore hari  Sabtu, 28 Februari 2015 saya memutuskan untuk mencari tempat pencucian motor.  ketika saya melewati Jl Lamper Tengah IX/24 Semarang, saya tertarik untuk mencoba mencuci motor di tempat itu.  Kebetulan terlihat tidak terlalu ngantri.

ketika saya memasuki tempat parkir, saya langsung disambut ibu-ibu yang menulis nomor motor saya dan sekaligus meminta ijin untuk meminjam kunci motornya.  Setelah itu, ibu tadi mempersilahkan saya menunggu di tempat tunggu sederhana, dan menawarkan fasilitas tambahan untuk mengatasi kejenuhan...

Fasilitas apa itu???



Salah satu pelanggan Cucian Motor sedang melakukan 
Terapi Ikan sambil menunggu motornya selesai di cuci


Ternyata dicucian motor tersebut disediakan refleksi ikan secara gratis khusus untuk para pelanggan cucian motor yang sedang menunggu motornya selesai di cucikan.

Dari ngobrol-ngobrol santai bersama para pelanggan lain, ternyata pelanggan justru datang lagi-dan lagi itu karena memang ingin merasakan terapi ikan tersebut selain tentunya mencucikan motornya.

"hanya dengan Rp. 8.000,- selain motor kinclong.. kaki kita juga kinclong mas" ungkap salah satu ibu-ibu pelanggan cucian motor tersebut sambil tersenyum lebar.

Cucian motor plus terapi ikan adalah konsep bisnis yang cerdas... 2 in 1....

Lalu.... bagai mana dengan KITA????




Fakta Unik:

  • Terapi ikan di sebut juga  Ictioterapia 
  • Terapi ikan di percaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, merangsang sel syaraf kaki, menghilangkan sel mati yang tertumpuk di kaki, menghilangkan jamur kaki dan kapalan
  • Terapi ikan menggunakan jenis ikan Garra Rufa, namun ikan lokal pun bisa dijadikan ikan terapi seperti ikan  nilem (Osteochilus hasseltii)
  • Terapi ikan juga menimbulkan banyak resiko  terutama penularan penyakit kulit, bakteri, dan terapi ini tidak disarankan bagi mereka penderita penyakit diabetes (jangan terlalu sering terapi ikan dan pilihlan tempat terapi yang baik)


-----oOo-----


Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si


Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. 
Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)

Senin, 02 Maret 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 02 Maret 2015

GADO-GADO
Bersama Pak Tinus
(Ilmuwan dan Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Anggota Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi (APIO))




Keterangan Foto :

Foto Bersama Karateka Inkado di Dojo SMP Ksatrian - Jalan Pamularsih Semarang tahun 2006.

* * *


Nostalgia. Masa lalu memang indah untuk diingat. Lagu-lagu jadul (= jaman dulu), iklan-iklan jadul (saya biasa menonton diwww.youtube.com), juga foto-foto jadul (ketika saya masih muda).

Foto bersama teman-teman Karateka Inkado di atas, misalnya. Seingat saya, terakhir saya latihan di "dojo" (tempat berlatih karate) adalah di tahun 2006. Itu berarti sudah sembilan tahun yang lalu. Saya masih 36 tahun saat itu, dan anak saya (Bernardine Agatha) baru berumur 7 tahun, masih kelas II SD. 

* * *

"Mengapa kita suka mengenang masa lalu, ya ?" tanya Slontrot kepada saya.

"Karena dengan mengenang masa lalu, kita bisa melihat seberapa jauh perjuangan kita sudah berjalan sejak saat itu sampai sekarang.....dan bagaimana hasilnya," jawab saya.

"Tentang foto karate itu misalnya, apa yang bisa kamu simpulkan ?" tanya Slontrot lagi.

"Itu adalah masa-masa indah. Saya, istri, dan anak setiap Minggu pagi berlatih karate di dojo bersama teman-teman karateka yang lain. Anak saya adalah salah satu karateka terkecil saat mulai latihan karate, baru lima tahun," kata saya.

"Tapi 'kan kamu tidak berlatih karate lagi sekarang ?"

"Iya. Saya harus bekerja dan masih melanjutkan kuliah juga. Akhirnya berhenti latihan karate. Otomatis anak dan istri juga ikut berhenti latihan karate," saya menjawab. "Tapi kami sekeluarga tetap senang dengan olah raga beladiri".

Slontrot tampaknya paham, bahwa ini adalah cerita tentang masa lalu di mana saya harus menyusun SKALA PRIORITAS dan menjalankannya. Beberapa hobi memang terpaksa tidak bisa dilakukan lagi.


* * *

Tidak semua hal yang DIINGINKAN dapat dilakukan dalam hidup ini. Kita harus MEMBUAT skala prioritas, kemudian HARUS MEMILIH prioritas yang memiliki skala tertinggi, dan MENJALANINYA.

* * *

"Dulu kamu mau beli mobil Daihatsu Taft tahun 1981 seharga Rp 10,5 juta, ya ?" tanya Slontrot.

"Iya," jawab saya. "Itu tahun 1996. Tapi tidak jadi".

"Kenapa ?"

"Saya dan calon istri sepakat, uangnya kami pakai dulu untuk bayar uang gedung kuliah S-2 Magister Manajemen," jawab saya.

"Kenapa lebih mengutamakan kuliah daripada beli mobil ?"

"Kalau kami kuliah S-2, punya jabatan bagus, pasti bisa beli mobil. Kalau kami beli mobil dulu, tapi tidak kuliah, maka ketika umur kami bertambah, belum tentu kami masih siap untuk belajar / kuliah lagi.... Kami waktu itu memang sepakat bahwa kami berdua sudah harus tamat S-2 sebelum anak kami lahir....sehingga ketika anak kami lahir, saya dan istri saya sudah punya ijazah S-2. Sudah bisa fokus membesarkan anak," jawab saya.

Dalam hal ini, prioritas kuliah S-2 saya dan istri memang lebih tinggi daripada prioritas membeli mobil.

Sah-sah saja kalau ada yang punya prioritas dengan susunan yang berbeda. Yang penting adalah, hidup itu harus dijalani sesuai dengan SKALA PRIORITAS yang sudah disusun.

Jadi, apa PRIORITAS Anda ?

-----oOo-----



Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.



Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi