Sabtu, 04 April 2015

Restu Lawak Club Live Show edisi Temu Karyawan 2015








-----oOo-----


Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si


Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. 
Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).



Rabu, 01 April 2015

Tips Gaya Berpakaian saat Wawancara

Wawancara kerja memang merupakan hal yang paling penting dalam proses untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Beban saat wawancara kerja tidak jarang membuat anda gugup dan gelisah. Penampilan merupakan salah satu poin penting saat bertemu dengan user saat dilakukannya wawancara kerja. Semakin baik penampilan anda (penampilan rapi dan kesan prosefional), maka rasa percaya diri anda akan semakin besar. Dengan percaya diri yang baik maka anda dapat menanamkan kesan yang baik pula kepada user.  Berikut adalah tips cara berpakaian dalam wawancara kerja:

1.      Jangan sampai memakai pakaian yang terlalu kasual
Gunakan busana seperti kemeja, blazer, dan rok/celana kain. Pastikan baju yang anda kenakan tidak terlalu longgar maupun terlalu ketat. Tampilkan dengan menjadi diri sendiri yang tentunya nyaman bagi pribadi dan orang lain.

2.      Sesuaikan pakaian dengan bidang pekerjaan yang kamu ajukan
Jika melamar ke perusahaan yang lingkungan kerjanya serius seperti bank, kenakan busana formal seperti blazer atau setelan. Tapi jika perusahaan yang anda tuju adalah bidang kerja kreatif seperti media atau agensi periklanan, berikan sedikit warna dalam penampilan anda lewat pemakaian kalung atau ikat pinggang.

3.      Pemilihan warna dalam berpakaian
Pilih warna-warna pastel akan memberikan kesan baik saat user melihatnya. Hindari warna-warna menyala seperti merah, kuning, hijau.

4.      Hindari kesan seksi
Bagi wanita jangan sekali-kali mencaoba terlihat seksi dengan memakai rok mini atau busana terlalu rendah. Penampilan seperti itu akan membuat terkesan tidak professional.

5.      Hindari pemakaian aksesoris yang berlebihan
Aksesoris yang berlebihan seperti kalung, cincin, gelang, dsb dapat mengganggu/mengalihkan perhatian user.

6.      Penampilan yang baik bagi pria
Disarankan untuk memakai pakaian dengan warna agak gelap seperti biru. Kenakan sepatu Pantofel yang sudah dipoles dengan baik. Kenakan kaus kaki hitam yang cukup panjang sehingga kaki berbulu tidak akan terlihat jika anda menyilangkan kaki.

7.      Perhatikan kerapian
Biasanya pria tidak peduli jika menyangkut soal penampilan, meski begitu harus tetap diperhatikan kerapiannya. Misalnya pastikan kemeja dimasukan ke dalam celana panjang dan gunakan ikat pinggang. Bersihkan juga sepatu jangan sampai ada tanah yang menempel. Selain itu perhatikan juga rambut agar tertata rapi. Untuk pria bisa gunakan minyak rambut. Sedangkan wanita biasakan rambut diikat untuk yang memiliki rambut panjang.


Contoh Pakaian yang salah :





Contoh Pakaian yang benar :

           
  




--oOo--


Penulis:

Rahmi Hardyastuti, S.Psi
                                                                                
                  
Alumni  2013 - Universitas Islam Sultan Agung 
Anggota APIO



Senin, 30 Maret 2015

Jujur dan Apaadanya Adalah Kunci Sukses Dalam Wawancara Kerja


Pojok CS-KS
Cerita Santai, Karir, dan Seleksi " bersama Kang Franes








Begitu banyak Universitas dan lembaga pendidikan yang meluluskan para alumnus yang siap menjadi para pencari kerja baru  adalah tantangan yang terus dihadapi oleh pemerintah dalam mengentaskan masalah pengangguran.

Begitu sering kurikulum pembelajaran di ubah dengan harapan menghasilkan para alumnus yang siap kerja... namun.... nyatanya????  tetap saja banyak pengangguran....

Sebetulnya apa sih yang menyebabkan seseorang itu gagal dalam memasuki dunia kerja???

Ternyata sebagian besar para pencari kerja gagal ... adalah ketika saat wawancara kerja.  Mereka gagal meyakinkan user seberapa berharganya mereka... dan sangat rugi jika user tidak menerima mereka.....

Mungkin teman-teman sering ke toko buku, dan banyak menemukan kiat sukses untuk menembus wawancara... dari yang biasa-biasa sajah.... sampai dengan ada yang mengupas teknik wawancara lengkap dengan kunci jawabannya... hehehhehe.....

Melihat itu semua saya prihatin...
saya bukan tidak setuju dengan buku-buku tersebut.... namun  saya prihatin jika si pelamar menelan mentah-mentah isi buku tersebut.......

sebetulnya Kunci Kesuksesan dalam Wawancara adalah:
"Jujur dan Apaadanya"

Jujur disini artinya, jawablah semua pertanyaan yang diajukan pewawancara dengan lugas, sesuai kenyataan, dan tidak berbelit-belit.

dan Apaadanya disini artinya, jawablah pertanyaan yang diajukan dengan menceritakan seperlunya tidak mengada-ngada, dan tidak hyperbola......

-----oOo-----


Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si


Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. 
Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).
 

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 30 Maret 2015

GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO))

KOK KERJA DI BANK ? Ini adalah kalimat tanya yang paling sering diajukan orang kepada saya di tahun 1995 (dua puluh tahun yang lalu). Ketika itu, saya baru diterima sebagai karyawan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, padahal saya adalah Sarjana Perikanan lulusan Universitas Diponegoro. 

Saya hanya tersenyum semanis mungkin yang bisa saya lakukan untuk menghadapi pertanyaan itu. Saya tidak merasa perlu untuk menjawabnya. Mereka yang mengajukan pertanyaan itu kepada saya tidak memerlukan jawaban dari saya maupun dari Bank BNI yang mempekerjakan saya. Tepatnya, itu hanya pertanyaan iseng saja : Sarjana Perikanan kok bekerja di bank.

* * * 

"Apa kamu tidak ingin bekerja di bidang perikanan, sesuai pendidikan formalmu ?" tanya Slontrot kepada saya.

"Dulu ya ingin. Saya mendapat gelar Sarjana Perikanan tahun 1995 bulan Februari. Bulan Desember tahun yang sama saya diterima di Bank BNI. Waktu itu, lowongan kerja di bank terbuka lebar. Saya melamar dan diterima," jawab saya.

"Kamu pernah melamar di bidang perikanan ?" tanya Slontrot menyelidik.

"Pernah. Melamar di Perikanan Undip, tapi tidak diterima," jawab saya.

"Kamu tidak jengkel ? Tidak protes ? Katanya kamu lulus dengan predikat Cumlaude," tanya Slontrot lagi.

"Saat itu, jengkel iya. Protes tidak. Entah kenapa, meski kecewa, saya cenderung bisa menerima bahwa saya harus bekerja di bidang yang berbeda dengan pendidikan formal saya," jawab saya. "BERDAMAI DENGAN KEADAAN," kata saya lagi.

* * *

Ketika saya mengatakan kalimat BERDAMAI DENGAN KEADAAN, beberapa orang mengartikannya dengan MENYERAH. Padahal tidak ! 

Saya berdamai dengan keadaan artinya saya MENERIMA yang terjadi, BERSYUKUR kepada Tuhan, dan tetap BERJUANG secara nyata untuk MENYESUAIKAN DIRI dengan "dunia pekerjaan baru yang tidak sesuai dengan pendidikan formal" saya. 

"Seperti apa itu ?" tanya Slontrot.

Saya heran, kenapa Slontrot bisa muncul setiap saat dan di mana saja.

"Saya kuliah S-2 Manajemen. Jadi, meskipun S-1 saya di bidang Perikanan, S-2 saya di bidang Manajemen. Kenapa saya tidak mengambil S-2 Perikanan ? Karena saya BERDAMAI DENGAN KENYATAAN bahwa saya bekerja di bank," kata saya.

Slontrot mengangguk-anggukkan kepala.

"Saya memang harus hidup hemat untuk membayar kuliah S-2 saya waktu itu. Saya membatalkan rencana membeli mobil karena uangnya saya pakai untuk kuliah S-2. Saya yang memilihi dan memutuskan demikian," kata saya lagi.

Slontrot masih saja mengangguk-anggukkan kepala.

"Kamu sampai membatalkan rencana membeli mobil karena kamu memilih menggunakan uang tersebut untuk kuliah S-2 ?" tanya Slontrot.

"Ya," jawab saya.

* * * 

Saya waktu itu (menjelang lulus Sarjana Perikanan) juga punya Sertifikat Kursus Perbankan dan menjadi lulusan terbaik, serta mempunyai Sertifikat Programer Komputer (tahun 1994, yang populer adalah Programer dBase III+). 

Saya memang waktu itu belum tahu tentang BEI (Behavioral Evidence Interview) alias wawancara yang dilakukan oleh pihak perusahaan untuk menggali bukti nyata pada diri pelamar kerja. Namun sekarang, di tahun 2015 (yaitu 20 tahun sejak saya lulus kuliah S-1 Perikanan) sebagai seorang Praktisi Psikologi Industri saya menyadari bahwa ketika itu saya SUDAH MENUNJUKKAN BUKTI NYATA bahwa saya memang sudah MEMPERSIAPKAN DIRI untuk bekerja di bank : kursus programer komputer, kursus perbankan, dan saya mahir Bahasa Inggris (karena itu, saya di Bank BNI ditempatkan di Departemen Jasa Luar Negeri & Ekspor - Impor yang menjalankan transaksi dengan bank di luar negri, semuanya dengan sistem komputer).

* * *

Hidup memang penuh dengan suka duka. Banyak teman dari S-1 Perikanan Undip yang bekerja di bidang perikanan. Hanya sebagian yang bernasib seperti saya : bekerja di luar bidang perikanan. Ada yang menjadi politikus ternama di Indonesia, ada yang bekerja di bidang perbankan seperti saya (dan istri saya juga). Saya juga kenal baik seorang Insinyur Peternakan Universitas Gadjah Mada yang sekarang menjadi psikolog ternama di Semarang. 

"Untuk bisa berhasil di bidang yang digeluti, terutama yang tidak sesuai dengan pendidikan formal, maka kita harus tekun bekerja sekaligus belajar. Kenalan saya yang Insinyur Peternakan UGM itu kuliah lagi di bidang S-1 Psikologi dan S-2 Psikologi, sehingga kompetensinya tidak diragukan lagi. Begitulah artinya BERDAMAI DENGAN KEADAAN," kata saya kepada Slontrot,

Seperti tadi, Slontrot masih juga mengangguk-anggukkan kepalanya. 

* * *

Semoga sharing pengalaman di atas dapat membantu menumbuhkan semangat teman-teman yang sudah bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan pendidikan formalnya, maupun bagi teman-teman yang saat ini sedang berjuang mencari pekerjaan.

Tentu saja, selain berusaha, harus tetap berdoa mohon berkat kepada Tuhan, karena semuanya adalah karena kasih karunia-Nya.

-----oOo-----

Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Sabtu, 28 Maret 2015

Kenangan Indah Saat Rafting di Sungai Elo











-----oOo-----


Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si



Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO

Jumat, 27 Maret 2015

Dunia Kerja Ini 'Panggung Sandiwara'

Obras (Obrolan Santai) bersama Linda
Serba-Serbi "Hubungan Industrial"

Dunia  Kerja  Ini  'Panggung  Sandiwara'

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran yang berpura-pura

Mengapa kita bersandiwara . .

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara . . . 

Sepenggal lagu 'Panggung Sandiwara' membuat kita nostalgia sejenak. Ingat, lagu ini bukan lagu 'tua' tapi lagu 'legendaris'.

Kiasan dalam lagu tersebut sarat akan makna. Panggung sandiwara bukan dalam artian isinya cuma 'bohong-bohongan' saja. Tapi, setiap orang mendapat peranan sebagai 'actor' untuk kegiatan kerja mereka dalam tugas yang mereka jalani. Sedangkan, ada yang berperan sebagai 'director' sebagai pengarah kegiatan para 'actor'. Semua peran yang dijalankan sesuai prosedur dan tugas mereka pun bisa berubah sesuai kebutuhan perusahaan. Asalkan kita bisa 'loyal' kepada pekerjaan kita, maka kita harus yakin apa yang kita lakukan adalah 'jembatan' kita untuk menentukan karir kita.


- Think Different -

-----oOo-----

Penulis : 
Linda Tetelepta, S.A.P



Alumni Universitas Diponegoro 
Anggota APIO

Kamis, 26 Maret 2015

Pengumuman Training Centre berubah menjadi PPSDM







PENGUMUMAN

Sejak 22 Maret 2015
BPR Restu Group 
telah memiliki 
Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia
"PPSDM"
sebagai pengganti Training Centre yang sudah ditiadakan.


"Sukses Selalu Untuk BPR Restu Group bersama PPSDM"

 



 --oOo---
 Penulis Oleh:
Happy Hapsari, S.H



Alumni Universitas Negeri Semarang
Anggota APIO