Senin, 14 September 2015

TANGAN GATEL YANG TIDAK BOLEH DI GARUK



Di sekian tempat pasti ada hal serupa yang anda temukan. Di gedung, di jembatan & ada juga di rumah – rumah yang berpenghuni. Pasti banyak orang yang mempertanyakan. Kenapa itu tangan pada gatel? Karena jika tembok itu masih bersih, mereka akan berusaha membuat karya seni yang tidak bertuan. Maksudnya tidak bertuan adalah selesai mereka mewarnai tembok – tembok yang tidak berdosa, mereka langsung lari tanpa pertanggung jawaban.



Contoh pada gambar diatas, bahasa di tempat saya ini namanya tembok di pilok. Coba anda pikirkan, apakah nama si pemilik ruko namanya BOTAK ? jika benar, si pemilok pasti sudah kenalan kepada si pemilik ruko atau mungkin punya feeling yang kuat. Tidak hanya di ruko ini. Ada juga di pos polisi




“Moraz & Memed” itu nama polisi yang selalu menjaga pos tersebut? Tentu tidak. Ulah tangan jail yang tidak bertanggung jawab ini patut diberikan sanksi yang tegas. Ada lagi yang lebih gatel,mencorat – 
coret rambu – rambu yang penting untuk pengguna jalan. Hal seperti ini sangat mengganggu pemandangan mata yang melihatnya. Mungkin beberapa orang menilai bahwa hal seperti ini adalah tuangan karya seni dari anak bangsa, tetapi menurut saya hal tersebut sangat tidak ada nilainya. Kenapa? Corat – coret yang tidak pada tempatnya dan lebih banyak merugikan orang lain. Si pemilik rugi karena harus mengecat kembali, rambu – rambu jadi kurang jelas dan harus diganti.






Pemerintah harus memberikan sanksi tegas agar para tangan gatel jera terhadap apa yang sudah mereka perbuat. Jika ingin menuangkan karya seni, bisa di tuangkan tanpa merugikan orang lain. Dengan cara menuangkan di selembar kertas atau media yang lain selain mengotori area / tempat orang lain. Masyarakat harus di himbau bahwasanya dengan kesadaran masing – masing untuk selalu memeliahara lingkungan, pasti keindahan kota kita selalu terjaga.


- Shofiana Ismawati
Jurnalis Website Contact - PT BPR Restu Mandiri Makmur

BERGAYA BERSAMA SANG JAWARA






Yeeahh!!!  Pekik lantang yang diserukan sang atlit diikuti sorak riuh tim suporter pada akhir pertandingan final hari Sabtu, 12 September 2015 yang lalu. Dialah Ajeng Yuanitasari, salah satu karyawati PT. BPR Artha Mukti Santosa yang terpilih untuk mewakili Perbarindo Komisariat Semarang pada Pekan Olah Raga (POR) ke-2 Perbarindo Jawa Tengah cabang olah raga tenis meja putri. Pekan Olah Raga ini dilaksanakan pada tanggal 11-12 September 2015.
 Ajeng, begitu biasa dia disapa, telah melewati beberapa tahap pertandingan dengan lawan yang tidak ringan. Seleksi awal untuk menentukan atlit yang bertanding dilakukan secara sportif di lingkungan internal Perbarindo Komisariat Semarang. Setelah mengikuti seleksi awal tersebut, dia bertanding mengalahkan lawan dari komisariat Kedu, Tegal, Banyumas dan Pati. Lawan yang dihadapi merupakan atlit yang kuat. Hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengerahkan kemampuannya hingga sampai pada babak final. Lawan yang tidak ringan memang, hingga dia harus melalui 4 set pertandingan untuk mendapatkan 3 kali kemenangan. Babak pertama dan kedua dia menang dengan skor telak. Namun, di babak ketiga skor tertinggal 5 angka dan harus mengakui kehebatan lawannya dari Karesidenan Pati. Babak keempat merupakan babak penentu kemenangannya. Dia berhasil mengatur emosinya, ritme permainan stabil dan dapat menyelesaikan pertandingan dengan apik. 





Wollaa....... gelar Juara I pun berhak disandangnya. Sekali lagi, Ajeng Yuanitasari mengharumkan nama BPR Artha Mukti Santosa, BPR Restu Group dan tentu saja Perbarindo Komisariat Semarang. Great job Ajeng, terima kasih, selamat atas kemenanganmu, kemenangan kita. Maju terus Perbarindo Komisariat Semarang dan Bravo olah raga Indonesia.



- Pramita Dwi A
Jurnalis Website Contact - BPR Artha Mukti Santosa

Minggu, 13 September 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 14 September 2015

GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi - Anggota HIMPSI,  Magister Manajemen dalam Bidang Marketing dan dalam Bidang SDM)


OLAH RAGA BELA DIRI APA YANG KAMU IKUTI ?

Itulah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pemilik perusahaan dalam tes wawancara yang saya jalani di tahun 2002. 

Saya sempat kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena saya mendaftar untuk posisi manajerial yang tidak ada kaitannya dengan bela diri. Pengalaman saya pun saat itu di bidang perbankan dan marketing, dan posisi manajerial yang saya lamar adalah di perusahaan perbankan.

"Karate," jawab saya mantap. Saya memang ketika kuliah dulu ikut olah raga karate, dan sejak SD saya sudah menghafalkan banyak jurus silat dari buku-buku yang saya beli di tahun 1980-an.

* * * * *

"Kamu sendiri, apa sekarang juga mengajukan pertanyaan yang sama ketika mewawancarai pelamar kerja ?" tanya Slontrot kepada saya.

"Ya," jawab saya. "itu bisa menjadi salah satu indikator tentang kepribadian pelamar tersebut. Memang bukan satu-satunya indikator. Kalau seorang pelamar ikut suatu olah raga beladiri, bisa saya gali apa motifnya. Itu yang menjadi salah satu indikator kepribadian".

* * * * *

setiap hari Sabtu pagi, saya mengajak anak buah saya melakukan kegiatan "outbound training". Tetapi jangan salah duga, "outbound training" ini adalah training di luar ruangan (lebih tepatnya : di halaman kantor) dengan bertelanjang kaki dan melakukan pukulan, tangkisan, tendangan karate. Semua anak buah aktif berlatih berpasangan menggunakan alat-alat bantu untuk memukul, menangkis, atau menendang. Semua bersemangat, semua berkeringat. Tentu saja, sebagai sebuah training, ada bagian "refleksi manajemen" yaitu menjelaskan apa kaitan kegiatan beladiri tersebut (termasuk latihan fisik, kuda-kuda, tangkisan, tendangan, kecepatan, keakurata, antisipasi, tekad yang kuat / keyakinan diri) dengan manajemen di tempat kerja. Intinya adalah : PENGETAHUAN SAJA BELUM CUKUP. Setiap orang harus melatif fisik dan kepribadiannya supaya memenuhi tuntutan pekerjaan / posisi jabatannya.

Dari "outbound training" setiap Sabtu pagi secara rutin, terlihat bahwa peserta semakin lama semakin percaya diri, sigap, percaya diri menghadapi tantangan. Ini terjadi karena mereka selalu dihadapkan pada pengalaman nyata dengan melakukan latihan karate secara berpasangan. Santai, tetapi semuanya serius. Sebab saya selalu mengatakan, kalau tidak ber-HATI-HATI, bisa CEDERA ! Maka harus selalu ANTISIPATIF dan PENUH PERHITUNGAN. KEKUATAN FISIK juga harus selalu dilatih. Dan tentu saja, DOA dan TEKAD KUAT untuk selalu mendapatkan PENINGKATAN KEMAMPUAN dari satu "outbound training" ke "outbound training" berikutnya. Selalu harus ada PENINGKATAN pada diri sendiri.

* * * * *

"Apakah harus beladiri ? Bagaimana kalau hobinya adalah naik gunung atau menyelam ?" tanya Slontrot.

"Tidak masalah," jawab saya. "Yang penting, kegiatan itu membuat kepribadian yang bersangkutan menjadi SIGAP dan GiGIH. Mengapa begitu ? Karena KEPRIBADIAN itu DITUNTUT oleh perusahaan".

Jadi, apakah Anda sudah mempunyai KEPRIBADIAN sesuai yang dituntut perusahaan ? Kalau belum, LATIHLAH kepribadian Anda dengan olah raga yang menunjang kekuatan kepribadian yang dituntut tersebut.



-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi
 

Selasa, 08 September 2015

Ada Yang Hilang

Pojok Cerita bersama Kang Franes
"HR juga bisa belajar sastra"


Sore ini, sambil menunggu panggilan antrian pasien, saya duduk-duduk dikursi tunggu sambil mengutak-ngatik Hp Jadul saya....

Tidak sengaja saya mendengarkan percakapan dua orang remaja usia kuliahan sedang mengobrol masalah keluarganya...

Remaja A:  malam minggu ini kamu mau jalan kemana??

Remaja B: malam minggu sepertinya aku akan nonton bareng sama mamah ku ke CL...

Remaja A: enak kamu yah.... mamahnya pengertian.... tidak seperti keluarga ku...

Remaja B: eit jangan begitu.... justru kamu yang harusnya senang... bukannya malam minggu besok kamu ada pertunjukan piano di gedung kesenian kampus.... :) pasti mamahmu selalu hadir dan mendukung mu...

Remaja A: ia.... dulu.... aku sangat suka bermain piano.....

Remaja B: bukannya sekarang juga masih??? malah kamu tambah kenalan.... belum dar tempat kursus kamu .... :)

Remaja A: aku masih ingat.... dulu aku selalu tersenyum bahagia... ketika berangkat ke tempat kursus.... aku selalu bangga ketika memainkan tuts piano, walau dengan nada yang kurang indah.....

Remaja B: lalu sekarang?? apa yang terjadi???

Remaja A: skarang aku benci dengan pertunjukan.... aku benci dengan  suara musik... aku benci semuanya.... :(

Remaja B: udah AN.... udah... jangan begitu.... tapi kan sekarang coba kamu lihat koleksi pialamu.. koleksi sertifikat penghargaan mu.... perjuangan mu tidak sia-sia....

Remaja A: seandainya kamu tahu.... siapa yang  berambisi menginginkan itu semua.... aku tak pernah menginginkannya....

Remaja B: ya sudah, besok aku ijin ke ibumu untuk mengajakmu ke CL bersama ibuku.... pasti ibumu mau meberi ijin....

Remaja A: benarkah??? terima kasih  NA......

Remaja B: :)

"Mas Pradu...." tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunannya....

"Maaf mas.... dikter Karin nya sudah siap...... silahkan anda sudah ditunggu".. ucap perawat tersebut dengan ramah...

"Oke mba... makasih yah" sambil segera berdiri dan berjalan ke arah ruang dokter Karin....
sedikit aku toleh ke arah dua remaja tadi....

"Ntah barapa banyak hal berharga dalam hidupku yang terlewati begitu saja,  hanya  untuk sebuah janjiku pada ABI dan UMI"...... :) :)

-----oOo-----

Penulis: 
Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si



Kang Franes memulai karirnya sebagai Praktisi Human Resources sejak 2011. 
Anggota  Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).






Senin, 07 September 2015

GADO-GADO Cerita Hidup Bersama Pak Tinus - edisi 07 September 2015


GADO-GADO
Bersama : Pak Tinus
(Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi, Kandidat Psikolog Industri)


Edisi : Senin, 7 September 2015

* * * * *

TOKOH IDOLA. Siapa tokoh idola Anda ? Atau, apakah Anda sudah punya tokoh idola ?

"Lha kenapa kamu bertanya tentang tokoh idola orang lain ?" tanya Slontrot.

"Karena tokoh idola seseorang itu bisa menggambarkan dia itu seperti apa," jawab saya.

"Maksud kamu ?" tanya Slontrot lagi.

"Kalau kamu punya tokoh idola orang yang baik hati dan penuh kasih saya, ya kamu itu seperti itu....setidaknya ingin atau berproses menjadi seperti tokoh idola itu," kata saya.

Slontrot mengangguk-anggukkan kepala. 

* * * * *

Dalam meniti karir pekerjaan, diperlukan juga adanya tokoh idola. Tokoh idola ini akan memberikan inspirasi bahkan petunjuk tentang bagaimana supaya menjadi sukses seperti dia. Lewat apa ? Lewat buku biografi atau otobiografi tentang tokoh idola itu !

Sejak saya masih SMP, tokoh idola saya adalah Arswendo Atmowiloto (penulis), Y.B. Mangunwijoyo (arsitek, penulis, rohaniwan), dan Dick Hartoko (penulis, rohaniwan). Saya membaca buku-buku / tulisan karya mereka, juga biografi / autobiografi mereka sehingga tahu bagaimana kehidupan mereka dan bagaimana perjuangan mereka. Itu sebabnya, saya sekarang hidup dan bekerja di bidang yang tidak jauh-jauh amat dari tulis-menulis.

Tentu saja, memilih tokoh idola harus sejalan dengan cita-cita di masa depan.

"Bagaimana kalau seorang mahasiswa jurusan Perikanan misalnya, tetapi ternyata memiliki tokoh-tokoh idola justru yang terkenal sebagai penulis ?" tanya Slontrot.

"Ha.....ha.....ha.....," saya tertawa terbahak-bahak. "Itu adalah saya ! Saya menyelesaikan pendidikan sebagai Insinyur Perikanan dari Undip, jauh sebelum saya akhirnya kuliah lagi dalam bidang Psikologi Industri. Ya boleh-boleh saja, 'kan ? Tetapi ya nantinya kalau kerjanya di bidang seperti saya ini, ya jangan heran....."



-----oOo-----
Penulis: 
Ir. Constantinus, M.M.


Pak Tinus sudah bekerja menjadi salesman sejak umur 19 tahun. 
Sejak tahun 2002 menjadi Praktisi Human Resources. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi